Puisi Ketiga – Langkah Sepi
Puisi Ketiga – Langkah Sepi
Pengantar
Kesendirian sering kali terasa berat. Namun, justru dalam kesepian kita belajar mengenal diri, menata hati, dan menemukan arti perjalanan hidup.
Puisi ini hadir sebagai cermin dari rasa sunyi, namun juga cahaya kecil yang tersembunyi di baliknya.
🌌 Langkah Sepi 🌌
Di jalan panjang yang sunyi,
aku berjalan seorang diri.
Tak ada suara, hanya desir angin
dan jejak kakiku yang beriringan
dengan bayangan sendiri.
Aku pernah bertanya pada malam,
mengapa sunyi begitu menusuk?
Mengapa langkah terasa berat
seolah dunia menutup pintu
dan meninggalkanku di persimpangan bisu?
Namun perlahan aku mengerti,
kesepian bukan hukuman,
ia adalah guru yang sabar,
mengajarkan arti bertahan,
mengenalkan suara hati
yang selama ini kerap tertutup bising dunia.
Dalam langkah sepi itu,
aku menemukan diriku kembali.
Aku belajar bahwa tidak semua perjalanan
butuh banyak teman untuk sampai.
Kadang, justru dalam sunyi,
kita bisa mendengar arah
yang tak pernah terdengar sebelumnya.
Malam semakin larut,
tapi aku tak lagi takut.
Kesepian ini bukan penjara,
melainkan pintu menuju kekuatan baru.
Dan aku tahu, meski berjalan sendiri,
setiap langkahku tetap berarti.
Makna Puisi
Puisi “Langkah Sepi” berbicara tentang bagaimana kesendirian bukanlah kelemahan, melainkan ruang untuk menemukan diri sendiri. Dari sepi, lahirlah kekuatan dan keberanian untuk terus melangkah.
Penutup
Hidup tak selalu ramai, dan itu baik-baik saja. Kadang kita perlu sendiri untuk kembali pulih, untuk kembali mengenal siapa diri kita sebenarnya.
Salam sastra,
Risti Windri Pabendan
Komentar
Posting Komentar