Langkah di Jalan Pulang
🌾 Langkah di Jalan Pulang
Karya: Risti Windri Pabendan
“Setiap langkah pulang selalu dimulai dari keberanian untuk berhenti berlari.”
Jalan yang Tak Lagi Dikenal
Langit sore di atas perbukitan itu berwarna tembaga.
Awan bergerak pelan, sementara matahari menurunkan cahayanya dengan lembut, seperti seseorang yang enggan berpisah.
Aku melangkah di jalan berbatu yang dulu sering kulalui waktu kecil.
Dulu, jalur ini terasa panjang sekali kini, justru terasa terlalu pendek.
Barangkali karena langkahku kini lebih berat, bukan oleh jarak, tapi oleh kenangan.
Rumah masa kecilku berada di ujung jalan itu, diapit dua pohon flamboyan yang kini sudah hampir mati.
Aku menatapnya lama, lalu menarik napas dalam-dalam.
Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali aku pulang.
Suara di Dalam Angin
Ada sesuatu tentang kampung halaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Setiap aroma, setiap suara, membawa kita kembali ke versi diri yang dulu
versi yang belum terlalu pandai berpura-pura kuat.
Angin sore lewat di antara pepohonan, membawa suara jangkrik dan bau tanah lembap.
Aku hampir bisa mendengar tawa masa kecilku di antara desirnya.
Tawa seorang anak laki-laki yang dulu berlari tanpa alas kaki, membawa layangan yang tak pernah bisa terbang tinggi.
Aku berhenti di dekat pagar tua yang kini penuh karat.
Papan kayunya lapuk, tapi di salah satu sisinya masih tergantung papan nama kecil bertuliskan:
“Keluarga Sasmita.”
Rumahku.
Bayangan di Serambi
Aku membuka pintu yang sudah berdebu dan melangkah masuk.
Serambi depan masih sama kursi rotan reyot, vas bunga kosong, dan kaligrafi tua tergantung miring di dinding.
Semua diam.
Tapi di keheningan itu, aku bisa merasakan sesuatu: semacam kehadiran lembut yang tidak terlihat tapi akrab.
Mungkin itu hanya kenangan.
Atau mungkin... Ibu.
Aku memejamkan mata, dan untuk sesaat, aku mendengar langkahnya.
Langkah ringan, suara sandal jepit, dan aroma sabun cuci yang dulu selalu menempel di bajunya.
Dapur yang Menyimpan Waktu
Aku melangkah ke dapur.
Kompor minyak tanah masih di tempatnya, meja kayu masih penuh goresan pisau lama, dan panci besar tergantung di dinding.
Aku menyentuhnya dingin dan berdebu.
Dulu, dari dapur inilah aroma yang paling kuingat.
Sambal terasi buatan Ibu, sayur lodeh yang mendidih pelan, dan teh manis hangat setiap sore.
Di pojok meja, aku menemukan toples kaca kecil berisi gula merah.
Anehnya, masih ada sisa di dalamnya.
Seolah seseorang baru saja meninggalkannya di sana, menungguku kembali.
Aku tertawa kecil, tapi air mataku ikut jatuh tanpa izin.
Rasanya aneh:
rumah ini sepi, tapi setiap benda terasa masih berbicara dengan lembut.
Surat yang Tak Sempat Dikirim
Di kamar belakang, aku menemukan sebuah amplop di atas meja rias.
Tinta sudah memudar, tapi aku masih bisa membaca tulisannya:
“Untuk anakku, Ardan.”
Tanganku bergetar ketika kubuka.
Tulisan tangan itu jelas milik Ibu.
“Nak,
Jika kamu membaca ini, mungkin Ibu sudah tidak di sini lagi.
Tapi jangan sedih. Waktu memang mengajarkan perpisahan,
agar kita tahu betapa berharganya kebersamaan.”
“Hidup akan membawamu jauh, Ibu tahu. Tapi tolong, sesekali pulanglah
bukan untuk Ibu, tapi untuk hatimu sendiri.”
Surat itu berhenti di situ.
Tinta terakhirnya luntur, mungkin terkena air mata.
Aku menggenggamnya, dan dunia serasa berhenti.
Kisah Tentang Ayah yang Diam
Ayah meninggal setahun setelah Ibu pergi.
Aku tidak sempat pulang waktu itu.
Pekerjaan di kota menahanku, dan rasa takut menghadapi kenangan membuatku menunda terlalu lama.
Aku menyesal, tapi penyesalan tidak pernah benar-benar berguna.
Ia hanya duduk diam di sudut hati, menatap kita tanpa kata.
Kini, di rumah kosong ini, aku bisa merasakan kehadiran mereka berdua.
Tidak sebagai bayangan menakutkan, tapi sebagai cahaya yang tenang.
Anak Kecil di Jalan Turun
Sore menjelang malam ketika aku keluar rumah.
Langit mulai berwarna ungu tua, dan suara burung-burung terakhir pulang ke sarang.
Di jalan menurun menuju sungai, aku melihat seorang anak laki-laki kecil sedang menendang bola plastik sendirian.
Ia menoleh, tersenyum, lalu berlari menghampiriku.
“Om baru ya? Dari kota?” tanyanya polos.
Aku mengangguk. “Iya. Kamu tinggal di sini juga?”
“Iya, di rumah dekat warung Bu Narti,” katanya cepat. “Tapi aku suka main di sini, karena anginnya enak.”
Aku menatap wajahnya rambut acak-acakan, mata berbinar, dan keceriaan yang nyaris lupa aku rasakan.
Entah kenapa, ada sesuatu dari anak itu yang mengingatkanku pada diriku sendiri.
Pelajaran dari Anak Kecil
Kami duduk di pinggir sungai sambil melempar batu kecil ke air.
Anak itu bercerita tentang sekolahnya, tentang layangan yang tersangkut di pohon jambu, dan tentang kucing liar yang sering datang ke dapur.
Aku hanya mendengarkan, sambil tersenyum.
Sampai akhirnya ia bertanya dengan polos,
“Om, kenapa orang dewasa sering kelihatan sedih, padahal gak hujan?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tapi rasanya seperti kaca yang memantulkan wajahku sendiri.
“Kadang... orang dewasa lupa caranya bahagia dengan hal kecil,” jawabku pelan.
Anak itu mengangguk seolah mengerti, lalu berkata,
“Kalau aku sedih, aku duduk di sini, lihat air mengalir. Nanti sedihnya ikut pergi.”
Aku menatap aliran sungai dan sungguh, ada kebenaran yang luar biasa sederhana di sana.
Air terus mengalir, tanpa menahan apa pun.
Mungkin memang begitu seharusnya kita belajar hidup.
Hujan Pertama di Kampung
Malam datang, dan hujan turun tiba-tiba.
Aku berlari kembali ke rumah, menutup jendela, menyalakan lampu minyak, lalu duduk di kursi dekat serambi.
Suara hujan menimpa atap seng membuat rumah itu terasa hidup lagi.
Dan di antara suara air, aku merasa seperti mendengar Ibu bersenandung pelan lagu lama yang dulu sering ia nyanyikan untukku sebelum tidur.
Aku menatap jendela.
Bayangan hujan di kaca tampak seperti jejak-jejak air mata yang jatuh perlahan.
Tapi kali ini, rasanya tidak menyakitkan.
Ada ketenangan baru yang tumbuh di sana seperti tunas kecil di tanah basah.
Fajar dan Jalan Pulang yang Baru
Keesokan paginya, udara bersih dan matahari naik perlahan dari balik bukit.
Aku berjalan sekali lagi ke ujung jalan.
Anak kecil itu datang berlari, membawa layangan baru di tangannya.
“Om, mau bantu aku terbangin?”
Aku tersenyum dan mengangguk.
Kami berdua berlari di jalan tanah, tertawa, sementara layangan itu naik tinggi menembus cahaya pagi.
Di momen itu, aku tahu aku tidak hanya pulang ke rumah.
Aku pulang ke diriku sendiri.
Dan di langit yang biru muda itu, seolah aku bisa mendengar suara Ibu berkata:
“Nah, sekarang kamu sudah bisa pulang tanpa takut, kan?”
Aku tersenyum, menatap layangan yang berputar di udara.
Sebuah titik kecil di langit, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa setiap langkah pulang bukan tentang tempat, tapi tentang hati yang berani berdamai.
🌾 Tamat
Risti Windri Pabendan
Komentar
Posting Komentar