Postingan

Malam yang Belajar Memaafkan

Gambar
  🌙 Catatan Harian Keenambelas: Malam yang Belajar Memaafkan Oleh: Risti Windri Pabendan “Malam tahu segalanya, tapi ia tidak pernah menghakimi. Ia hanya mendengarkan, lalu memeluk dalam diam.” Malam ini datang tanpa suara. Angin tidak terlalu kencang, langit tidak sepenuhnya gelap. Ada bulan separuh menggantung di atas kepala  seolah ia pun sedang belajar perlahan, tidak terburu-buru menjadi utuh. Aku duduk di dekat jendela, menatap bayangan diri sendiri di kaca. Wajah yang sama, tapi matanya berbeda. Ada tenang yang belum sepenuhnya damai, ada letih yang belum sepenuhnya pulih. Namun entah mengapa, malam ini terasa cukup. Tidak sempurna, tapi cukup. 🌌 Luka yang Tak Ingin Hilang Ada luka-luka lama yang kadang muncul kembali tanpa diundang. Bukan untuk menyakiti, tapi seolah ingin diingat. Mungkin mereka belum selesai. Mungkin mereka hanya menunggu aku benar-benar siap untuk memaafkan. Dulu, aku pikir memaafkan itu berarti melupakan. Aku mencoba menekan ken...

Cerpen : Senja yang Menyimpan Janji

Gambar
  🌇 Senja yang Menyimpan Janji Karya: Risti Windri Pabendan “Senja ini terasa sama seperti waktu itu,” ucap Raya pelan, matanya menatap langit yang perlahan berubah warna dari jingga ke keemasan. “Bedanya, sekarang aku duduk sendiri.” Arga tersenyum kecil di seberang meja. “Kamu tidak sendiri. Aku di sini.” Raya menoleh, memandang pria itu sejenak. “Kamu datang terlambat, tapi masih datang.” “Aku hampir tidak datang sama sekali,” jawab Arga jujur. “Tapi ada hal-hal yang harus kita selesaikan sebelum matahari benar-benar tenggelam.” Angin sore meniup rambut Raya pelan. Mereka duduk di bangku kayu di tepi danau, tempat yang dulu jadi saksi dari banyak hal  tawa, diam, dan janji yang tidak pernah benar-benar ditepati. “Kamu masih ingat?” tanya Raya lirih. Arga mengangguk. “Bagaimana mungkin lupa? Aku bahkan masih ingat aroma kopi yang kamu pesan hari itu.” Raya tersenyum. “Kopi hitam tanpa gula.” “Karena kamu bilang, manis itu harus datang dari percakapan, bukan dari cangkir....

Senja yang Menyimpan Janj

Gambar
  🌇 Catatan Harian Kelimabelas: Senja yang Menyimpan Janji Oleh: Risti Windri Pabendan “Setiap senja datang dengan janji yang sama  bahwa tak ada yang benar-benar pergi, hanya berubah menjadi cahaya yang berbeda.” Ada keindahan yang tak bisa dijelaskan dalam detik-detik menjelang senja. Langit mulai berubah warna, perlahan-lahan, seperti seseorang yang belajar menerima perpisahan tanpa lagi meneteskan air mata. Awan jingga, angin yang menenangkan, dan cahaya lembut yang seakan memeluk bumi dengan penuh pengertian. Aku duduk di tepi jendela, menatap hari yang hampir berakhir. Di mataku, senja bukan sekadar waktu  ia adalah perasaan. Perasaan yang datang tanpa diminta, tapi selalu meninggalkan sesuatu di dada: rindu, syukur, dan diam yang panjang. 🌤️ Janji di Balik Cahaya yang Redup Ada sesuatu tentang senja yang selalu membuatku percaya bahwa waktu tidak sekejam itu. Ia menghapus siang, memang, tapi juga menyiapkan malam dengan cara yang indah. Ada transisi l...

Cerpen: Suara dari Balik Jendela

Gambar
  🌌 Suara dari Balik Jendela Karya: Risti Windri Pabendan “Masih suka membuka jendela malam-malam begini?” Suara itu datang pelan, nyaris tenggelam oleh suara serangga dan angin. Laras  ya, namanya sama seperti dulu, tapi ini bukan kisah yang sama  menoleh dari kursinya. Di depan jendela kamar yang terbuka, siluet seorang pria berdiri di balik cahaya lampu jalan yang remang. “Reno?” katanya perlahan. “Sudah lama sekali.” Pria itu tersenyum samar. “Empat tahun, dua bulan, dan mungkin beberapa malam yang terlalu panjang.” Laras tertawa kecil. “Kamu masih suka menghitung hal-hal yang tidak perlu, ya.” “Tidak semua hal yang dihitung tidak perlu. Beberapa di antaranya... menjaga waras.” Ia menarik kursi di dekat meja dan duduk. Udara malam masuk dari jendela, membawa aroma hujan yang tertahan. Di luar, pohon ketapang bergoyang lembut. Di dalam, waktu seolah berhenti. “Kamu datang karena apa?” tanya Laras, nada suaranya datar, tapi matanya menyimpan gemuruh yang sulit dijela...

Langit yang Belajar Tenang

Gambar
  🌤️ Catatan Harian Keempatbelas: Langit yang Belajar Tenang Oleh: Risti Windri Pabendan “Tidak semua yang tenang berarti tanpa gelombang. Kadang, ketenangan adalah keberanian untuk tetap diam di tengah riuhnya pikiran.” Ada sesuatu yang berbeda di langit siang ini. Tidak biru sempurna, tapi juga tidak kelabu. Seperti seseorang yang sudah berhenti berdebat dengan dirinya sendiri. Ia diam, tapi tidak kosong. Ia lembut, tapi tidak lemah. Aku menatap langit dari halaman kecil rumahku. Angin bergerak pelan, membawa suara daun yang berdesir seperti napas panjang setelah tangis. Ada damai yang tidak dijelaskan oleh kata-kata  hanya bisa dirasakan, seperti detak jantung yang tiba-tiba terasa pelan lagi setelah lama berlari. ☁️ Tentang Langit dan Diri yang Pernah Ribut Beberapa waktu lalu, pikiranku seperti langit di musim badai. Gelap, penuh petir dan suara keras yang menakutkan bahkan untuk diriku sendiri. Aku terlalu sibuk melawan perasaan  takut, ragu, kecewa, marah...

cerpen “Di Tepi Waktu yang Kembali

Gambar
  🌅 Di Tepi Waktu yang Kembali Karya: Risti Windri Pabendan “Tak kusangka kamu masih suka datang ke tempat ini,” ucap Dira sambil menatap laut yang berkilau keemasan. Angin sore membuat rambutnya menari pelan, seperti ingin menyembunyikan gugup yang hampir tampak di wajahnya. Reno tersenyum tipis. “Aku tidak datang ke sini untuk mengulang kenangan,” katanya. “Aku datang untuk memastikan kenangan itu tidak terlalu menyakitkan lagi.” Dira tertawa kecil. “Kedengarannya seperti kalimat dari novel murahan.” “Bisa jadi,” balas Reno, matanya masih menatap ombak. “Tapi kadang yang murahan justru paling jujur.” Mereka berdua berdiri lama di tepi pantai itu, membiarkan suara laut menjadi pengisi jeda di antara kalimat yang belum sempat diucapkan. Langit sore mulai memerah. Aroma garam, pasir, dan waktu berpadu jadi satu. Tempat itu dulu saksi dari segalanya tawa, amarah, dan perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai. “Masih ingat?” tanya Dira akhirnya, suaranya hampir tenggelam di an...

Tentang Pagi yang Belajar Tersenyum Lagi

Gambar
  🌅 Catatan Harian Ketigabelas: Tentang Pagi yang Belajar Tersenyum Lagi Oleh: Risti Windri Pabendan “Kadang yang paling sulit bukan memulai hari, tapi percaya bahwa hari ini pantas dijalani dengan senyum.” Pagi ini berbeda. Udara masih lembap, tapi hangatnya mulai terasa pelan-pelan. Suara burung di kejauhan terdengar seperti sapaan lembut dari dunia yang ingin memeluk lagi. Aku membuka jendela, dan sinar matahari masuk pelan  tidak menusuk, hanya menyentuh pipi dengan lembut, seperti seseorang yang takut mengganggu tidurmu. Setelah malam-malam panjang penuh renungan, akhirnya aku sampai di sini  di pagi yang tidak lagi terasa berat. Bukan karena semua masalah telah selesai, tapi karena aku belajar berdamai dengan apa yang tak bisa kuubah. 🌻 Ketika Pagi Masih Takut Bangun Ada masa ketika pagi bukan hal yang kutunggu. Bangun tidur terasa seperti kewajiban, bukan kebahagiaan. Aku menjalani hari tanpa arah, hanya mengikuti rutinitas yang kering makna. Kopi ke...