cerpen “Di Tepi Waktu yang Kembali

 


🌅 Di Tepi Waktu yang Kembali

Karya: Risti Windri Pabendan


“Tak kusangka kamu masih suka datang ke tempat ini,” ucap Dira sambil menatap laut yang berkilau keemasan. Angin sore membuat rambutnya menari pelan, seperti ingin menyembunyikan gugup yang hampir tampak di wajahnya.

Reno tersenyum tipis. “Aku tidak datang ke sini untuk mengulang kenangan,” katanya. “Aku datang untuk memastikan kenangan itu tidak terlalu menyakitkan lagi.”

Dira tertawa kecil. “Kedengarannya seperti kalimat dari novel murahan.”

“Bisa jadi,” balas Reno, matanya masih menatap ombak. “Tapi kadang yang murahan justru paling jujur.”

Mereka berdua berdiri lama di tepi pantai itu, membiarkan suara laut menjadi pengisi jeda di antara kalimat yang belum sempat diucapkan. Langit sore mulai memerah. Aroma garam, pasir, dan waktu berpadu jadi satu. Tempat itu dulu saksi dari segalanya tawa, amarah, dan perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Masih ingat?” tanya Dira akhirnya, suaranya hampir tenggelam di antara desir angin.
Reno menatapnya sebentar. “Ingat semuanya. Bahkan hal-hal kecil yang kamu pikir sudah aku lupakan.”

“Seperti?”
“Kau pernah bilang, kalau takut pada laut bukan karena dalamnya, tapi karena laut bisa membawa pergi tanpa peringatan.”

Dira menunduk, menendang pasir dengan ujung sandal. “Aku masih takut, Ren.”
“Aku juga,” katanya. “Tapi aku sudah belajar berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa kutahan.”

Keheningan lagi. Tapi kali ini terasa lebih tenang, bukan canggung. Seolah dua orang yang dulu pernah saling melukai kini sedang belajar bicara tanpa dendam.

“Aku dengar kamu pindah ke Bandung?” Dira mencoba membuka topik baru.
“Iya. Aku kerja di penerbitan kecil di sana. Kamu?”
“Aku masih di sini. Mengajar di sekolah dekat rumah. Hidupku sederhana, tapi cukup.”

Reno tersenyum. “Kamu memang selalu pandai membuat kata cukup terdengar indah.”

Dira tersipu, lalu berkata pelan, “Tapi kalau boleh jujur, aku belum benar-benar cukup. Ada hal-hal yang masih tertinggal di belakang.”
“Hal seperti apa?”
“Seperti kamu,” jawabnya lirih.

Reno diam. Ia menatap laut, lalu memejamkan mata sebentar. “Aku juga tidak pernah benar-benar pergi, Dir. Aku hanya... berusaha tidak mengganggu ruang yang kamu pilih untuk sendiri.”

“Aku kira kamu benci aku.”
“Aku tidak bisa membenci seseorang yang pernah jadi rumah,” katanya lembut.

Dira menggigit bibirnya. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahan. “Rumahnya sudah rusak waktu kamu pergi, Ren.”
“Aku tahu. Tapi sekarang aku berdiri di depan reruntuhannya, dan rasanya... aku masih ingin memperbaikinya.”

Dira tertawa kecil sambil mengusap air matanya. “Kamu selalu tahu cara membuat aku bingung.”

“Bingung lebih baik daripada kehilangan arah,” balas Reno cepat, lalu mereka berdua tertawa. Suara tawa itu terdengar seperti sesuatu yang lama tertahan dan akhirnya keluar dengan lega.

Matahari hampir tenggelam ketika Dira berkata, “Kamu tahu kenapa aku datang ke sini hari ini?”


“Tidak. Tapi aku rasa aku ingin tahu.”

“Karena aku mimpiin kamu. Tiga malam berturut-turut. Dalam mimpiku, kamu memanggilku dari seberang laut, tapi aku tidak bisa menjawab.”

Reno menatapnya dalam-dalam. “Dan sekarang kamu sudah menjawabnya.”
Dira mengangguk. “Sekarang aku sudah.”

Angin sore meniup ujung selendangnya. Reno mengambilnya, menahannya agar tidak terbang. Sentuhan singkat itu membuat keduanya terdiam. Ada sesuatu di sana bukan hanya nostalgia, tapi juga kesadaran bahwa beberapa hal memang tidak bisa sepenuhnya hilang.

“Kamu bahagia sekarang?” tanya Dira pelan.
Reno menatap horizon. “Aku tidak tahu. Tapi sore ini, berdiri di sini, bersamamu... rasanya cukup dekat dengan bahagia.”

Dira menunduk, suaranya nyaris berbisik. “Aku juga.”

Mereka duduk di pasir, membiarkan ombak datang dan pergi. Waktu seakan melambat. Tak ada yang perlu dijelaskan, tak ada yang perlu dijawab. Hanya dua manusia yang dulu pernah hancur oleh hal yang sama, kini mencoba menjadi utuh di tempat yang sama.

Reno memecah keheningan, suaranya rendah tapi jelas.
“Kalau waktu bisa diulang, aku masih akan memilih bertemu kamu. Tapi kali ini, mungkin aku akan lebih banyak mendengarkan daripada berdebat.”
Dira tersenyum. “Dan aku mungkin akan lebih banyak bertahan daripada pergi.”

“Kita terlambat ya, Dir?”
“Tidak, Ren. Aku rasa kita cuma sampai di waktu yang berbeda.”

Reno menatapnya lama, lalu tersenyum. “Aku senang kamu masih datang.”
“Aku juga senang kamu masih menunggu.”

Langit mulai gelap. Di kejauhan, suara ombak berubah jadi lagu yang menenangkan.
Dira berdiri, menatap laut yang perlahan menelan matahari. “Kamu mau tahu hal paling aneh dari perpisahan?”
“Apa?”
“Kadang, setelah lama sekali, kita sadar bahwa yang kita cari bukan orangnya, tapi versi diri kita yang dulu bahagia bersamanya.”

Reno mengangguk pelan. “Kalau begitu, hari ini aku menemukan versi itu lagi.”

Mereka saling menatap, dan dunia seperti berhenti sejenak.
Tidak ada janji, tidak ada kata selamat tinggal, hanya sebaris senyum yang cukup untuk menutup luka bertahun-tahun.

Reno akhirnya berkata pelan, “Kalau besok hujan, kamu masih mau datang?”
Dira tersenyum kecil. “Hujan tidak masalah. Aku sudah tahu cara membaca rintiknya.”

Dan sore pun menutup diri dalam diam.
Di tepi pantai itu, di antara sisa cahaya yang meredup, dua hati yang pernah retak perlahan menemukan bentuknya kembali.
Bukan untuk mengulang, tapi untuk memahami  bahwa beberapa cinta tidak perlu dimiliki untuk bisa tetap indah.


🌅 Tamat


Risti Windri Pabendan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang