Cerpen: Suara dari Balik Jendela

 


🌌 Suara dari Balik Jendela

Karya: Risti Windri Pabendan


“Masih suka membuka jendela malam-malam begini?”
Suara itu datang pelan, nyaris tenggelam oleh suara serangga dan angin.

Laras  ya, namanya sama seperti dulu, tapi ini bukan kisah yang sama  menoleh dari kursinya. Di depan jendela kamar yang terbuka, siluet seorang pria berdiri di balik cahaya lampu jalan yang remang.

“Reno?” katanya perlahan. “Sudah lama sekali.”

Pria itu tersenyum samar. “Empat tahun, dua bulan, dan mungkin beberapa malam yang terlalu panjang.”

Laras tertawa kecil. “Kamu masih suka menghitung hal-hal yang tidak perlu, ya.”
“Tidak semua hal yang dihitung tidak perlu. Beberapa di antaranya... menjaga waras.”

Ia menarik kursi di dekat meja dan duduk. Udara malam masuk dari jendela, membawa aroma hujan yang tertahan. Di luar, pohon ketapang bergoyang lembut. Di dalam, waktu seolah berhenti.

“Kamu datang karena apa?” tanya Laras, nada suaranya datar, tapi matanya menyimpan gemuruh yang sulit dijelaskan.
Reno menatap jendela yang terbuka. “Karena aku ingin menutup sesuatu yang dulu tidak sempat.”

“Menutup?”
“Ya. Kita dulu pergi dengan cara yang buruk. Tanpa kata, tanpa pamit, hanya amarah dan diam. Aku tidak ingin mengakhiri cerita dengan cara seperti itu.”

Laras menghela napas, pandangannya beralih ke luar. “Kamu datang di waktu yang aneh, Ren. Aku sedang belajar tidak mengingatmu.”

“Dan aku datang bukan untuk mengacaukan itu,” katanya cepat. “Aku cuma ingin kamu tahu, aku tidak lagi marah.”

Keheningan menggantung. Hanya suara jam dinding yang terdengar pelan.
“Kamu pikir itu cukup?” tanya Laras akhirnya. “Datang, bilang tidak marah, lalu semuanya beres?”

Reno menunduk. “Tidak. Tapi aku pikir itu awal yang baik.”

Laras berdiri, berjalan ke jendela, lalu bersandar di bingkainya. “Aku sudah mencoba banyak hal untuk melupakan. Tapi malam-malam seperti ini, jendela seperti ini... semuanya tetap mengingatkanku pada kamu.”

Reno mendekat, tapi berhenti dua langkah sebelum menyentuh cahaya lampu.
“Aku juga tidak lupa, Laras. Bahkan hal kecil seperti suara jendela dibuka pun bisa membuatku ingat bagaimana dulu kamu bilang angin malam terdengar seperti doa.”

Laras menatapnya. “Lucu. Dulu kamu benci malam.”
“Sekarang tidak lagi. Aku belajar mencintai hal-hal yang dulu kubenci, karena sebagian darinya adalah sisa darimu.”

Ia tertawa kecil, getir tapi tulus. “Kamu berubah.”
“Begitu juga kamu,” balas Reno. “Kamu terlihat lebih tenang.”

“Tenang bukan berarti tidak rapuh.”
“Rapuh bukan berarti lemah.”

Mereka saling menatap lama. Angin berhembus, membawa tirai bergoyang. Dalam keheningan itu, ada perasaan yang tidak perlu diterjemahkan: sesuatu antara penyesalan dan penerimaan.

“Masih suka menulis?” tanya Reno, mencoba memecah suasana.
Laras mengangguk. “Masih. Tapi sekarang aku menulis tanpa berharap dibaca seseorang.”
“Bagus. Aku selalu percaya, tulisan yang paling jujur justru ditulis tanpa pembaca.”

Ia tersenyum samar. “Dulu kamu tidak begitu.”
“Dulu aku menulis untuk membuatmu tetap melihat aku.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku menulis untuk tetap mengenangmu, tanpa menahanmu.”

Laras terdiam. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar  bukan sedih, bukan bahagia, tapi semacam lega yang tidak bisa didefinisikan.

“Aku pernah menunggu kamu kembali,” katanya lirih. “Tapi waktu berjalan. Aku berhenti menunggu bukan karena berhenti mencintai, tapi karena aku belajar mencintai diriku juga.”

Reno tersenyum tipis. “Itu kalimat paling indah yang pernah kudengar darimu.”
“Dan mungkin satu-satunya yang benar-benar jujur.”

Ia menatap Reno lama-lama, seolah ingin memastikan sosok di hadapannya benar-benar nyata, bukan sekadar bayangan masa lalu yang menuntut pengakuan.

“Ren,” katanya akhirnya, “aku tidak ingin membuka luka lama.”
“Aku juga tidak ingin menambahnya. Aku hanya ingin mengucapkan maaf dengan tenang.”

Laras menatap lantai, lalu berkata pelan, “Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Hanya saja aku belum sempat bilang.”

Reno mengangguk. Matanya memanas, tapi ia menahan. “Kalau begitu, aku bisa pulang dengan tenang.”

Ia berbalik hendak pergi, tapi Laras menahan, “Tunggu.”
Reno berhenti di ambang pintu.
“Duduk sebentar lagi,” katanya. “Kita belum benar-benar selesai bicara.”

Reno kembali duduk. Laras menatap keluar, melihat pantulan cahaya bulan di kaca jendela.
“Kamu tahu?” katanya. “Ada masa di mana aku marah pada malam, karena selalu mengingatkanku padamu. Tapi lama-lama aku sadar, mungkin malam hanya ingin aku berdamai.”

“Dan kamu sudah berdamai?”
“Aku sedang mencoba.”
“Itu cukup.”

Mereka kembali diam, tapi kali ini keheningan terasa nyaman.
Reno mengeluarkan sesuatu dari jaketnya  sebuah surat yang dilipat rapi.
“Ini untukmu,” katanya, menyodorkan kertas itu. “Aku menulisnya waktu aku di Yogya. Tidak pernah kukirim, karena takut terlambat.”

Laras menerimanya tanpa membuka. “Aku akan membacanya nanti.”
“Tidak apa-apa. Surat itu tidak menuntut jawaban.”

Laras menatapnya. “Kamu selalu punya cara membuat hal sederhana jadi rumit.”
“Dan kamu selalu punya cara membuat hal rumit jadi sederhana,” jawabnya cepat.

Keduanya tertawa pelan. Lalu, seolah malam ikut tersenyum, suara jangkrik di luar berhenti sejenak, memberi ruang pada kesunyian yang manis.

Reno berdiri. “Aku harus pergi. Besok pagi aku berangkat lagi ke luar kota.”
Laras ikut berdiri. “Kamu tidak akan kembali ke sini lagi, ya?”
“Aku tidak tahu. Tapi kalaupun tidak, aku ingin ingat malam ini sebagai penutup yang baik.”

Ia melangkah menuju pintu, tapi sebelum benar-benar pergi, Laras memanggil pelan,
“Reno.”

Ia berbalik.
“Terima kasih sudah datang,” katanya lembut. “Aku pikir aku tidak butuh penutup. Tapi ternyata aku butuh.”

Reno menatapnya lama, lalu berkata, “Kita semua butuh cara untuk menutup pintu dengan tenang, agar bisa membuka yang baru tanpa rasa bersalah.”

Laras mengangguk. “Selamat jalan.”
“Selamat tinggal.”
“Tinggal saja, jangan hilang,” katanya cepat.
Reno tersenyum, “Aku akan tinggal di kenangan yang tidak lagi menyakitkan.”

Ia menatap Laras untuk terakhir kalinya, lalu melangkah pergi.
Laras berdiri di depan jendela, memandangi langit malam yang jernih. Di luar, angin bertiup pelan, membawa aroma hujan pertama musim ini.

Ia membuka surat yang tadi diberikan. Di dalamnya tertulis kalimat pendek:

“Aku tidak tahu apakah ini akhir, tapi jika iya, semoga kita bertemu lagi di versi diri kita yang lebih tenang.”

Air mata jatuh tanpa suara. Tapi bukan karena sedih  melainkan karena akhirnya ia merasa ringan.

Malam itu, jendela dibiarkan terbuka.
Dan di baliknya, Laras tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


🌌 Tamat


Risti Windri Pabendan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang