Cerpen : Senja yang Menyimpan Janji
🌇 Senja yang Menyimpan Janji
Karya: Risti Windri Pabendan
“Senja ini terasa sama seperti waktu itu,” ucap Raya pelan, matanya menatap langit yang perlahan berubah warna dari jingga ke keemasan. “Bedanya, sekarang aku duduk sendiri.”
Arga tersenyum kecil di seberang meja. “Kamu tidak sendiri. Aku di sini.”
Raya menoleh, memandang pria itu sejenak. “Kamu datang terlambat, tapi masih datang.”
“Aku hampir tidak datang sama sekali,” jawab Arga jujur. “Tapi ada hal-hal yang harus kita selesaikan sebelum matahari benar-benar tenggelam.”
Angin sore meniup rambut Raya pelan. Mereka duduk di bangku kayu di tepi danau, tempat yang dulu jadi saksi dari banyak hal tawa, diam, dan janji yang tidak pernah benar-benar ditepati.
“Kamu masih ingat?” tanya Raya lirih.
Arga mengangguk. “Bagaimana mungkin lupa? Aku bahkan masih ingat aroma kopi yang kamu pesan hari itu.”
Raya tersenyum. “Kopi hitam tanpa gula.”
“Karena kamu bilang, manis itu harus datang dari percakapan, bukan dari cangkir.”
Raya menunduk, menatap bayangan mereka berdua yang terpantul di permukaan air.
“Percakapan kita waktu itu malah jadi akhir, bukan manis.”
Arga menarik napas dalam. “Aku tahu. Aku yang salah waktu itu.”
“Tidak perlu lagi disalahkan,” kata Raya lembut. “Kita cuma dua orang yang belum siap waktu itu. Terlalu muda untuk mengerti bahwa cinta butuh tenang, bukan hanya berani.”
Arga diam, pandangannya ke langit yang mulai lembayung. “Aku selalu ingin bilang maaf.”
Raya tertawa kecil. “Kamu tidak perlu bilang maaf. Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu sadar kamu salah.”
“Kalau begitu... kamu masih marah?”
“Tidak,” jawabnya pelan. “Aku cuma takut. Takut kalau aku memaafkan sepenuhnya, aku juga harus mengakui bahwa aku masih menyimpan rasa.”
Arga menatapnya lama, seperti mencari sesuatu di balik sorot matanya. “Kamu masih menyimpan?”
Raya tidak menjawab. Ia hanya menatap danau, lalu berkata pelan, “Senja ini, rasanya seperti kamu. Hangat, tapi sebentar lagi hilang.”
Arga tersenyum getir. “Tapi aku datang, Raya. Sekalipun terlambat.”
“Ya, kamu datang. Tapi waktu tidak menunggu, kan?”
Ia menoleh, matanya berkilat lembut tapi tegas. “Aku menunggu kamu dulu, Arga. Sekarang, biarkan aku menunggu diriku sendiri untuk pulih sepenuhnya.”
Keheningan turun di antara mereka. Hanya suara air yang memecahnya sesekali.
Arga mengeluarkan sesuatu dari saku sebuah kertas kecil yang sudah agak kusut.
“Aku menemukan ini di buku lama. Surat yang dulu ingin aku kasih, tapi tidak jadi.”
Raya menatap kertas itu, tapi tidak mengambilnya. “Kamu masih menyimpannya?”
“Entah kenapa, iya. Aku pikir kalau aku buang, aku juga membuang bagian dari diriku yang dulu benar-benar tulus.”
“Dan sekarang kamu mau aku baca?”
“Tidak. Sekarang aku cuma ingin kamu tahu, waktu aku menulisnya, aku benar-benar mencintaimu. Dengan caraku yang kacau.”
Raya menatapnya lama. “Aku percaya.”
Matahari semakin rendah. Bayangan mereka makin panjang di atas tanah. Senja mulai memudar menjadi warna ungu lembut.
“Lucu ya,” kata Raya tiba-tiba. “Dulu aku takut kehilangan kamu. Sekarang aku takut kehilangan ketenangan yang kutemukan setelah kamu pergi.”
“Dan kamu tidak harus memilih salah satunya,” balas Arga. “Kadang cinta tidak harus menggantikan tenang. Cukup berjalan di sampingnya.”
Raya menghela napas. “Kamu terdengar bijak sekarang.”
“Bukan bijak. Aku cuma menua dengan perasaan yang sama.”
Ia tertawa kecil. “Kamu selalu tahu cara membuat kalimat terdengar indah.”
“Dan kamu selalu tahu cara membuatnya berarti.”
Langit kini benar-benar oranye gelap. Cahaya matahari terakhir menempel di kulit mereka, hangat dan melankolis.
“Jadi, apa yang kamu mau, Gar?” tanya Raya pelan.
“Aku tidak tahu. Aku cuma ingin duduk di sini, melihat matahari tenggelam bersamamu, tanpa rasa bersalah.”
Raya menatapnya. “Kamu pikir kita bisa mulai lagi?”
“Tidak,” jawabnya jujur. “Tapi kita bisa mengenang tanpa luka. Itu sudah cukup.”
Ia mengangguk pelan. “Mungkin memang begitu seharusnya. Beberapa janji memang tidak untuk ditepati, hanya untuk diingat agar kita tetap lembut.”
Arga menatap danau, lalu berkata lirih, “Kamu tahu, aku selalu bayangkan akhir kita begini. Bukan pertengkaran, bukan tangis, cuma percakapan tenang di bawah langit yang paham.”
“Langit memang selalu tahu lebih dulu,” kata Raya sambil tersenyum. “Karena dia selalu jadi saksi, bahkan untuk janji yang tidak diucapkan.”
Angin sore membawa aroma tanah dan air. Seekor burung melintas, siluetnya terpotong cahaya oranye di horizon.
“Aku harus pergi,” kata Arga akhirnya. “Aku cuma mampir sebentar. Dunia nyata sudah menunggu.”
Raya mengangguk. “Aku tahu. Tapi terima kasih sudah mampir ke dunia yang pernah kita punya.”
Arga berdiri. “Kamu akan baik-baik saja?”
“Aku sudah baik-baik saja sejak mulai tidak menunggumu.”
Ia tersenyum. “Kalimat itu seperti penutup buku yang bagus.”
“Bukan penutup,” jawabnya. “Cuma tanda jeda sebelum halaman baru.”
Mereka saling menatap sekali lagi bukan dengan rindu, tapi dengan pengertian.
Arga melangkah pergi, meninggalkan bayangan panjang yang tertelan warna malam. Raya tetap duduk di sana, menatap sisa cahaya terakhir di air danau.
Ia berbisik pelan, seperti berbicara pada senja yang perlahan menghilang,
“Terima kasih sudah datang kembali, meski cuma sebentar. Sekarang, aku siap membiarkan waktu berjalan lagi.”
Di kejauhan, cahaya jingga terakhir menghilang sepenuhnya. Tapi di dada Raya, ada kehangatan baru bukan dari Arga, bukan dari senja, tapi dari dirinya sendiri yang akhirnya pulih.
🌇 Tamat
Risti Windri Pabendan
Komentar
Posting Komentar