Catatan Harian Ketiga Ketika Hujan Datang, Aku Menemukan Ketenangan Baru

 


Catatan Harian Ketiga

🌧️ Ketika Hujan Datang, Aku Menemukan Ketenangan Baru 


Ada yang berbeda sore ini. Langit yang sejak siang tampak mendung akhirnya menurunkan hujannya. Rintik-rintik kecil jatuh di atap rumah, menciptakan irama sederhana yang begitu menenangkan.

Aku duduk di dekat jendela, menatap butiran hujan yang berlomba-lomba menuruni kaca. Ada perasaan damai yang tiba-tiba hadir. Padahal, sebelumnya pikiranku begitu riuh dengan banyak hal: pekerjaan, rencana, dan kekhawatiran yang tak kunjung selesai.

Hujan mengajarkanku untuk berhenti sejenak. Bahwa tidak apa-apa jika hari ini tidak sempurna, tidak apa-apa jika ada hal-hal yang belum bisa kuselesaikan. Karena hidup memang bukan tentang berlari tanpa henti, tapi juga tentang memberi ruang bagi diri untuk bernapas.

Ada sesuatu yang ajaib dari hujan: ia membawa suara sunyi yang menenangkan hati. Tetesannya seolah berkata, “Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu istirahat sejenak.”

Aku menyadari, ketenangan itu bukan selalu datang dari tempat yang jauh atau hal yang besar. Kadang, ia datang dari suara hujan, dari aroma tanah yang basah, dari secangkir teh hangat yang menemani sore.

🌧️ Catatan untuk diriku sendiri:
“Ketika hidup terasa berat, biarkan hujan menenangkanmu. Karena setiap tetesnya adalah doa yang jatuh ke bumi, mengingatkan bahwa badai pun akan selalu reda.”


Salam hangat,
Risti Windri Pabendan 🌹


Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang