Cerpen Lucu Anak SMA: Drama Receh di Balik Seragam Putih Abu-Abu

 


Drama Receh di Balik Seragam Putih Abu-Abu

 Awal yang (nggak) Biasa 

“Tok tok tok!”
Suara kapur menabrak papan tulis terdengar nyaring. Bu Yati, guru Matematika yang terkenal killer seantero sekolah, menatap ke seluruh kelas dengan mata elang.

“Raka! Kamu perhatiin papan tulis atau perhatiin cicak di atas plafon?” bentaknya.

Semua murid langsung menahan tawa. Sementara itu, aku Raka, siswa kelas XI IPA 2, korban tetap dalam setiap kejadian kocak cuma bisa nyengir kuda.

“Eh… anu, Bu… saya lagi mikirin konsep sinus cosinus, Bu. Saking seriusnya, sampe liat ke atas gitu,” jawabku sok pinter.

Seketika, satu kelas pecah jadi tawa. Bahkan Dimas, sahabatku sejak SMP, hampir keselek minum es teh dalam botol minumnya. Bu Yati hanya menghela napas, “Dasar anak ini… sudah duduk paling belakang, kerjaannya cuma ngelawak.”

Begitulah hidupku: murid biasa yang sering jadi luar biasa gara-gara kebodohan sendiri.


Kalau ngomongin SMA, jujur aja, semua orang pasti punya cerita. Ada yang penuh cinta, ada yang penuh prestasi, ada juga yang penuh… tragedi nasi goreng jatuh di kantin. Aku sih masuk kategori terakhir.

Keseharianku sederhana: datang ke sekolah dengan rambut agak berantakan (sering dimarahin Pak Satpam), belajar ala kadarnya, terus nongkrong di kantin bareng geng kecilku: Dimas si logis, Arif si tukang tidur, dan Bowo si calon stand-up comedian.

Kantin sekolah ini adalah dunia kedua buat kami. Dari sana, kami belajar banyak hal: dari cara ngutang tanpa malu, sampai strategi dapet bonus kerupuk gratis.

Pernah suatu kali, aku lagi pesen bakso. Pas mau bayar, aku sok-sokan bawa duit lima ribuan, padahal harganya sepuluh ribu. Tante kantin langsung bilang, “Nak, ini kurang lima ribu.”
Aku dengan polosnya jawab, “Oh iya, Bu… bisa dibayar nanti pas gajian, kan?”

Tante kantin langsung melotot, temen-temen ngakak, dan aku resmi masuk daftar hitam tukang bakso selama seminggu.


Tapi jangan salah, walaupun sering apes, masa SMA itu masa paling berwarna. Bahkan hal-hal kecil bisa jadi cerita yang nggak bakal dilupain. Contohnya kayak:

  • Guru Bahasa Indonesia yang tiap kali marah selalu kepleset lidah.

  • Upacara bendera yang lebih mirip konser dangdut karena speaker sekolah suka error.

  • Atau kejadian aku ditunjuk jadi ketua piket, tapi kelas malah makin berantakan gara-gara aku lupa bawa sapu.

Itu baru permulaan. Karena semakin hari, semakin banyak drama receh yang harus aku hadapi di balik seragam putih abu-abu ini.

Dan hari itu, aku nggak tau kalau hidupku bakal jadi bahan ketawa satu sekolah…


Operasi Nyontek Gagal Total

Hari itu suasana kelas tegang. Ulangan Matematika.
Kalau ada yang bilang ulangan itu mudah, jelas dia bukan murid XI IPA 2. Karena bagi kami, ulangan Matematika itu lebih horor dari film kuntilanak mana pun.

Aku duduk di bangku belakang, tepat di samping Dimas. Sejak awal, aku sudah siap dengan “rencana darurat”: selembar kertas contekan kecil yang aku tulis semalaman.

Bukan karena aku malas belajar. Tapi karena setiap kali aku belajar, rumus-rumus itu berubah jadi kode alien. Sumpah, aku pernah serius baca buku Matematika, tapi lima menit kemudian aku malah ketiduran sambil megang kalkulator.


“Bro, siap-siap. Kalau Bu Yati jalan ke depan, kita eksekusi.” bisik Dimas.

Aku mengangguk penuh wibawa, padahal jantung deg-degan kayak abis mau nembak gebetan.

Ulangan pun dimulai. Suasana kelas hening, cuma ada suara kertas disobek sama pensil gesek-gesek kertas. Aku pelan-pelan buka contekan di bawah meja.

Tapi nasib sial emang nggak bisa dihindarin. Tulisan contekan yang aku buat semalam ternyata super kecil. Bahkan pake kaca pembesar pun mungkin tetap nggak kebaca.

Aku coba deketin kertas itu ke mata, eh malah bikin posisiku mencurigakan. Dari depan, Bu Yati tiba-tiba nyeletuk:

“Raka! Kamu lagi sembahyang apa belajar? Kok kepala nunduk-nunduk kayak orang cari koin jatuh?”

Satu kelas langsung ketawa. Aku buru-buru jawab, “Nggak Bu… saya ini… lagi konsentrasi!”

Bu Yati menggeleng. “Dasar kamu…” lalu kembali memperhatikan murid lain.


Aku coba lagi, kali ini intip contekan Dimas. Sayangnya, tulisan Dimas super rapi tapi terlalu cepet. Aku telat satu soal, dia udah loncat ke soal berikutnya.

“Bro, pelan-pelan napa! Ini otak gue loading, bukan wifi kafe,” bisikku.

Dimas nyengir, terus makin cepet nulis, sengaja nge-prank aku. Sialan banget tuh anak.

Akhirnya aku pasrah, balik ke contekan sendiri. Tapi apesnya, aku salah ngambil kertas. Yang kebawa justru kertas… lirik lagu dangdut hasil contekan minggu lalu pas ekskul musik.

Aku bengong liat tulisan “Aku rapopo… meski hati terluka…” terpampang jelas di bawah meja.

Aku langsung nahan ketawa sendiri. “Ya ampun, ini bukan ulangan Matematika, ini ulangan konser dangdut apa?”


Di detik genting itu, Bu Yati mendekat. Langkah sepatunya makin lama makin deket ke arahku. Aku buru-buru geser kertas contekan itu ke bawah bokong.

Deg. Deg. Deg.

“Raka,” suara Bu Yati terdengar dingin.

Aku menelan ludah. “I… iya, Bu?”

“Nomor tiga… jawabannya apa?”

Aku panik. Otakku blank. Seolah semua rumus sinus cosinus itu terbang ke luar jendela. Akhirnya aku spontan jawab:

“Jawabannya… rapopo, Bu.”

Seketika, kelas meledak ketawa. Bahkan Arif yang biasanya tidur pun mendadak bangun gara-gara ngakak.

Bu Yati melotot, mukanya merah antara nahan marah dan bingung. “Apa tadi kamu bilang?”

Aku buru-buru klarifikasi, “Maksud saya, rapopo itu… rumus persamaan polinomial positif, Bu!”

Semua murid tambah ngakak.

Akhirnya, Bu Yati nyerah juga. Dia cuma ngelus dada, “Ya ampun, Raka… saya doakan kamu cepat insaf dari dunia receh ini.”

Sementara aku cuma bisa nyengir, wajah panas karena malu. Tapi di sisi lain, aku seneng. Karena sejak hari itu, aku punya julukan baru di kelas: “Raka Rapopo.”

Entah kenapa, rasanya keren juga punya branding sendiri, meski asalnya dari kebodohan.


Hari itu aku belajar satu hal penting:
Kadang, niat nyontek malah berakhir jadi stand-up comedy gratis buat satu kelas. Dan meskipun nilainya jeblok, setidaknya aku berhasil bikin semua orang ketawa.


PDKT Ala Raka yang Super Gagal

Setelah tragedi “Raka Rapopo” di kelas Matematika, hidupku nggak jadi lebih tenang. Justru makin rame.
Setiap kali jalan di koridor, ada aja anak yang nyeletuk, “Rapopo… rapopo…” kayak backing vocal konser dangdut.

Tapi di balik semua kehebohan itu, ada satu hal serius yang bikin aku nggak bisa tidur nyenyak: cinta pertama.

Namanya Sinta. Cewek kelas sebelah. Rambutnya panjang, selalu dikuncir setengah, dan kalau senyum bisa bikin satu kelas cowok klepek-klepek. Termasuk aku.

Masalahnya? Sinta itu cewek populer. Pintar, cantik, aktif di OSIS, dan hobi ikut lomba debat. Sedangkan aku? Ya, Raka Rapopo, spesialis bikin malu diri sendiri.

Tapi hati siapa bisa melawan perasaan? Aku pun mulai misi PDKT, dengan strategi ala-ala yang katanya “jitu”… padahal receh abis.


Misi Pertama: Bunga Misterius

Aku pernah baca di internet: cewek suka kejutan. Maka aku pun bawa setangkai bunga mawar ke sekolah.
Masalahnya, aku salah pilih. Bunga itu aku beli di tukang bunga pinggir jalan, dan ternyata… udah agak layu.

Pagi-pagi, aku nunggu di depan kelas Sinta. Begitu dia datang, aku buru-buru maju, sok romantis.

“Ini… buat kamu,” kataku, sambil nyodorin bunga.

Sinta sempat kaget, lalu tersenyum. Aku hampir pingsan bahagia.

Tapi sebelum sempat menerima, tiba-tiba angin bertiup kencang. Bunga layu itu terlepas, kelopak-kelopaknya beterbangan, jatuh ke lantai.

Yang tersisa cuma batang bengkok dengan dua daun kering.

Sinta menatapku, antara bingung dan menahan tawa. Aku panik, langsung bilang:

“Eh… ini bunga edisi limited, cuma buat kamu. Anti-mainstream gitu…”

Teman-temannya langsung ngakak, dan aku pun resmi jadi bahan gosip satu sekolah selama seminggu.


Misi Kedua: Chat Rahasia

Aku nggak menyerah. Kali ini, aku coba cara modern: WhatsApp.
Aku dapat nomornya dari temen (hasil lobi panjang dan traktiran es teh manis).

Malam itu, aku ketik pesan panjang-panjang, pakai bahasa puitis ala novel roman murahan:

“Hai Sinta, malam ini bulan tampak indah. Tapi jujur, senyummu jauh lebih indah daripada rembulan. Semoga mimpi malammu seindah tatapanmu di kelas…”

Aku reread berkali-kali, yakin banget ini bakal bikin dia terkesan. Lalu aku tekan send.

Sepuluh menit kemudian, balasan masuk.
Aku deg-degan. Kubuka pesan itu dengan tangan gemetar.

Isi balasannya:

“Maaf, kayaknya kamu salah kirim. Ini nomor Pak RT.”

Aku langsung pengen pindah planet. Ternyata aku salah simpan kontak. Nomor Sinta ada di bawah, tapi aku malah kirim ke grup WA RT.

Besoknya, gosip itu udah nyebar ke sekolah. Bahkan Pak Satpam pun sempet nyeletuk, “Rak, bulan emang indah ya?” sambil ketawa ngakak.


Misi Ketiga: Pentas Seni

Kesempatan emas datang saat sekolah adakan pentas seni. Aku daftar jadi panitia acara, sekalian biar bisa deket-deket sama Sinta yang jadi MC.

Di hari H, aku dapat tugas ngurus sound system. Sederhana, kan? Tapi entah kenapa, selalu ada cara untuk bikin aku jadi bahan ketawa.

Ketika Sinta naik panggung dan mulai pembukaan acara, aku yang pegang mic malah salah pencet tombol. Alih-alih suara Sinta yang keluar, justru playlist dangdut dari HP-ku yang nyambung ke speaker.

Lagu pertama: “Jatuh Bangun”.

Seluruh penonton ketawa ngakak, Sinta bingung, aku panik setengah mati.
Aku buru-buru matiin, tapi salah pencet lagi. Kali ini keluar rekaman suaraku sendiri waktu latihan nyanyi di kamar:

“Sinta… cintaku padamu takkan rapopo…”

Aku langsung pengen gali tanah, bikin lubang, lalu tinggal di dalamnya selamanya.


Sejak hari itu, aku sadar: PDKT-ku gagal total.
Tapi anehnya, setiap kali aku bikin malu diri sendiri, Sinta malah tersenyum. Kadang dia bahkan ikut ketawa bareng teman-temannya, tapi senyumnya nggak pernah sinis.

Aku nggak tau, mungkin dia kasihan. Atau mungkin… dia emang menganggapku lucu.
Yang jelas, buatku itu udah cukup.

Karena pada akhirnya, nggak semua cinta harus berakhir jadi pacaran. Kadang, cukup bisa bikin orang yang kita suka ketawa, itu udah jadi kebahagiaan tersendiri.


Drama 17-an yang Bikin Rusuh

Bulan Agustus tiba. Di sekolah, itu artinya satu: perlombaan 17 Agustus.
Semua kelas wajib ikut berbagai lomba. Dari tarik tambang, makan kerupuk, balap karung, sampai lomba paling absurd: drama perjuangan.

Kelas XI IPA 2 tentu ikut serta. Dan seperti biasa, nasib sial selalu menempel padaku. Aku terpilih jadi ketua tim lomba.

Awalnya aku semangat. Tapi begitu lihat daftar lomba, aku mulai mikir, “Ya Tuhan, ini lomba atau hukuman?”


Lomba Tarik Tambang

Aku maju sebagai peserta utama. Lawan pertama: kelas XI IPS 1, yang semua cowoknya punya badan mirip binaragawan.
Sementara timku? Dimas si kurus, Arif si tukang tidur (yang masih nguap-nguap pas lomba), Bowo yang lebih sibuk selfie, dan aku sendiri yang ototnya cuma aktif kalau lagi makan mie instan.

Ketika peluit ditiup, tali langsung ketarik kenceng. Aku hampir kebawa, tapi masih berusaha keras.

“Tarik, bro! Tarik!” teriakku.

Dimas teriak balik, “Gue tarik, tapi yang ketarik malah celana gue!”

Dan benar saja, celananya melorot setengah. Penonton ketawa ngakak, sementara kami kalah telak dalam waktu kurang dari lima detik.


Lomba Makan Kerupuk

Nah, ini lomba yang katanya gampang. Tinggal ngunyah kerupuk yang digantung pakai tali.
Aku pede banget, soalnya kalau urusan makan, aku juaranya.

Begitu peluit dibunyikan, aku langsung sikat kerupuk itu dengan mulut terbuka lebar. Tapi apes, kerupuknya terlalu tinggi. Aku loncat-loncat, malah kepentok kepala ke tali jemuran.

Sementara itu, Arif yang biasanya malas tiba-tiba jadi ninja. Dia tenang, fokus, dan habisin kerupuk dengan cepat. Semua penonton bersorak, “Arif! Arif! Arif!”

Aku cuma bisa garuk-garuk kepala sambil nahan sakit jidat. Dalam hati, aku ngedumel, “Kenapa justru dia yang menang, padahal biasanya tidur melulu?”


Lomba Balap Karung

Oke, aku masih punya kesempatan di balap karung.
Aku masuk karung, siap-siap di garis start. Jantung deg-degan, adrenalin naik.

“Siap… mulai!”

Aku loncat sekali, dua kali, eh karungku malah sobek. Kaki nyangkut, badanku jatuh ke depan, dan… bruak! Aku nyungsep tepat di tanah berdebu.

Parahnya lagi, debu itu beterbangan, masuk ke hidung semua orang di sekitarku. Satu barisan penonton batuk-batuk, panitia marah, dan aku jadi headline acara: “Peserta Balap Karung Jadi Mesin Asap Gratis.”


Drama Perjuangan Kelas

Ini puncaknya. Setiap kelas harus bikin drama perjuangan.
Entah kenapa, aku dipilih jadi pemeran utama: pejuang kemerdekaan. Padahal aku lebih cocok jadi penjual es cendol.

Naskah sudah disiapkan: aku harus berpidato penuh semangat, lalu memimpin pasukan melawan penjajah.

Hari tampil, panggung penuh penonton. Aku maju dengan gagah, bawa bambu runcing (pinjem dari tukang sate depan sekolah).

Aku berteriak, “Saudara-saudaraku! Hari ini kita lawan penjajah!”

Tapi saat mau angkat bambu runcing ke atas, ternyata ujungnya masih ada… sate ayam setengah gosong yang ketinggalan.

Penonton langsung ngakak. Bahkan juri pun ketawa sampai keluar air mata.

Aku panik, buru-buru coba pidato lagi, “Kita harus bersatu demi kemerdekaan!”

Tapi suaraku pecah jadi fals, mirip penyanyi dangdut baru belajar nada tinggi.

Pasukan kelas kami (Dimas, Arif, Bowo) juga nggak kalah kocak. Dimas salah dialog, harusnya teriak “Merdeka!”, tapi dia malah bilang “Rapopo!”.
Arif kebablasan tidur di panggung, padahal harusnya adegan perang.
Bowo? Dia selfie sama bambu runcing.

Akhirnya, drama perjuangan kami bukan terlihat heroik… tapi lebih mirip acara lawak.


Walaupun jelas kalah di semua lomba, kelas XI IPA 2 tetap jadi sorotan. Karena tiap lomba selalu ada drama konyol yang bikin semua orang ngakak.

Bahkan guru-guru pun bilang, “Kalian memang nggak menang lomba, tapi menang di hati penonton.”

Dan jujur aja, itu rasanya lebih menyenangkan daripada piala plastik yang biasa-biasa aja.


Pentas Seni yang Bikin Geger Sekolah

Setelah drama 17-an penuh kegagalan kocak, aku kira penderitaan sudah selesai. Ternyata tidak.
Sekolah masih punya agenda besar: Pentas Seni Tahunan.

Semua kelas harus tampil. Ada yang nyanyi, ada yang nari, ada yang main drama.
Kelas XI IPA 2, dengan ide super aneh dari Bowo, memutuskan untuk menampilkan… band akustik.

Masalahnya?

  • Arif nggak bisa main alat musik.

  • Dimas cuma bisa ketuk meja.

  • Aku? Cuma bisa nyanyi di kamar mandi.

Tapi ya udah lah, demi gengsi, kami nekat.


Latihan Kilat

Selama seminggu, kami latihan kilat. Aku jadi vokalis, Dimas main gitar pinjeman, Arif dipaksa jadi drummer pake galon air mineral, dan Bowo… ya sibuk foto-foto latihan buat diposting di IG.

Aku lumayan pede. Suara di kamar mandi sih keren, harusnya di panggung juga oke, kan?


Hari H Pentas Seni

Aula sekolah penuh. Semua murid, guru, bahkan kepala sekolah hadir. Sinta juga duduk di barisan depan (ya ampun, tambah deg-degan!).

Kami naik panggung. Aku pegang mic, keringat dingin keluar, tapi sok-sokan cool.

“Selamat siang semua! Kami dari XI IPA 2, dan lagu ini… untuk kalian semua!”

Penonton tepuk tangan meriah. Aku tarik napas dalam, lalu mulai nyanyi.

Awalnya aman. Suaraku lumayan, penonton ikut goyang. Tapi tiba-tiba, saat masuk reff, mic yang kupakai… mati total.

Aku panik. Buru-buru teriak lebih keras.
Tapi karena tegang, suaraku malah pecah:

“Aaaaaakuuuu… rapopoooooo”

Satu aula langsung pecah ketawa. Guru-guru sampai nutup mulut, Sinta ketawa sambil nutup wajah pakai tangan.

Aku tambah panik. Aku coba goyang dikit biar nggak kaku, eh malah kepleset kabel mic. Aku jatuh ke belakang, nabrak galon Arif yang jadi drum. Air tumpah ke mana-mana.

Dimas juga kaget, senar gitar putus. Bowo? Masih sempet selfie dengan caption: “Band kami, live chaos.”


Ending Kacau Balau

Akhirnya, penampilan kami berubah total jadi komedi improvisasi. Aku nyanyi fals, Dimas main gitar senar tiga, Arif nge-drum pake ember bekas, dan Bowo joget ala tiktoker.

Dan anehnya… penonton malah suka. Mereka ketawa ngakak, tepuk tangan panjang, bahkan guru musik bilang, “Kalian nggak cocok jadi band… cocoknya jadi grup lawak!”

Aku malu setengah mati, tapi di sisi lain… bahagia. Karena untuk pertama kalinya, seluruh sekolah bersatu ketawa karena aksi kami.

Dan yang paling bikin hatiku hangat, aku lihat Sinta berdiri sambil tepuk tangan. Senyumnya lebar, matanya berbinar. Seolah-olah bilang, “Kamu memang kocak, tapi itu yang bikin kamu beda.”


Hari itu aku sadar:
Kadang kita nggak perlu jadi sempurna buat disukai orang. Kadang, cukup jadi diri sendiri meskipun receh dan absurd itu udah bikin hidup lebih berwarna.

Rapopo, Bro!

Pentas seni berakhir dengan sorak-sorai. Walaupun jelas penampilan kami berantakan, kelas XI IPA 2 malah dapat gelar “Penampilan Paling Menghibur”.
Ya, bukan juara utama, tapi siapa peduli? Kami puas karena bisa bikin satu sekolah ketawa.

Setelah acara selesai, aku duduk di tangga aula, masih ngos-ngosan dan malu-malu. Dimas sibuk betulin gitar yang senarnya putus, Arif sudah rebahan di kursi (lagi-lagi tidur), sementara Bowo update status:

“Band gagal, tawa berhasil. Rapopo!”

Aku ketawa kecil baca status itu. Ternyata, branding “Rapopo” yang dulu kupikir bikin malu, sekarang justru jadi semacam slogan kebanggaan kami.


Pertemuan Kecil

Saat lagi bengong, tiba-tiba seseorang berdiri di depanku.
Aku mendongak. Sinta.

“Raka Rapopo, ya?” katanya sambil senyum.

Aku refleks garuk-garuk kepala. “Eh… iya. Maaf kalau tadi berisik banget di panggung…”

Dia malah ngakak. “Berisik sih iya, tapi lucu. Jujur aja, kalian bikin aku ngakak banget.”

Aku bengong. “Masa sih?”

Sinta mengangguk. “Kamu mungkin nggak sadar, tapi orang kayak kamu itu penting. Bikin orang lain ketawa itu susah, Rak. Dan kamu bisa lakuin itu tanpa usaha.”

Aku diam sebentar, lalu senyum kikuk. “Jadi… rapopo, gitu?”

Sinta tertawa lagi. “Iya, rapopo.”


Pelajaran dari Putih Abu-Abu

Hari-hari SMA nggak pernah lepas dari drama receh: nyontek gagal, PDKT kacau, lomba 17-an rusuh, sampai pentas seni berakhir komedi.
Tapi justru dari situlah aku belajar banyak hal.

Bahwa hidup itu nggak harus selalu serius.
Bahwa gagal nggak selalu berarti buruk, kadang justru jadi kenangan paling lucu.
Dan bahwa jadi diri sendiri meski receh dan absurd tetap bisa bikin kita berarti buat orang lain.


Sekarang, setiap kali ada yang manggil aku “Raka Rapopo”, aku nggak malu lagi.
Karena di balik julukan itu ada cerita tentang masa SMA yang nggak akan pernah aku lupain.

Mungkin aku nggak pernah jadi juara olimpiade, nggak pernah jadi ketua OSIS, apalagi pacaran sama cewek populer.
Tapi aku punya sesuatu yang lain: kenangan kocak yang bisa bikin orang ketawa sampai tua nanti.

Dan kalau suatu hari aku ditanya, “Apa yang kamu ingat dari masa SMA?”
Aku bakal jawab dengan senyum lebar:

“Segalanya rapopo, bro!”


TAMAT 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang