Cerpen Romantis Dewasa: Cinta yang Datang di Waktu yang Salah

 


Cerpen Romantis Dewasa: Cinta yang Datang di Waktu yang Salah

✍️ Risti Windri Pabendan


Pertemuan di Tengah Hujan

Jakarta sore itu basah kuyup. Hujan turun deras, membasahi jalanan yang sudah padat dengan kendaraan. Klakson bersahut-sahutan, orang-orang berlari mencari tempat berteduh, dan aku—Arga, 29 tahun—memutuskan untuk masuk ke sebuah kafe kecil di sudut jalan Sudirman.

Kafe itu hangat. Lampu kuning redup berpadu dengan aroma kopi yang menenangkan. Aku memilih duduk di dekat jendela, menatap butir hujan yang menetes deras, sambil membuka laptop. Seperti biasa, kerjaan kantor masih menumpuk meski jam sudah menunjukkan pukul enam sore.

Aku sering bercanda dengan teman-teman kalau aku ini “jomblo karier”. Bukan karena nggak laku, tapi karena terlalu sibuk mengejar target. Hidupku monoton: kantor, rumah, kafe, dan kembali lagi ke kantor. Rasanya sepi, tapi aku sudah terbiasa.

Hingga hari itu, aku bertemu dia.

Di tengah kesibukanku mengetik, seorang perempuan masuk tergesa-gesa sambil menutup payung biru yang masih meneteskan air hujan. Rambutnya agak berantakan karena angin, tapi wajahnya segar, matanya cerah, dan ada senyum lelah yang entah kenapa terlihat menenangkan.

Dia melihat sekeliling, tampak mencari tempat duduk. Kafe sudah hampir penuh. Aku menunduk lagi ke layar, tak terlalu peduli. Tapi beberapa detik kemudian, suara lembut terdengar di hadapanku.

“Permisi, mas. Boleh duduk di sini? Kayaknya cuma meja ini yang kosong.”

Aku mendongak. Perempuan itu berdiri sambil membawa tas kain dan secangkir latte di tangannya. Aku refleks mengangguk.
“Oh… iya, silakan.”

Dia duduk, menghela napas panjang. “Hujan Jakarta emang nggak pernah bisa ditebak ya. Baru keluar kantor sebentar, langsung kuyup.”

Aku hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengetik. Tapi entah kenapa, aku merasa terganggu—in a good way. Wangi parfumnya samar, bercampur dengan aroma kopi. Dari ujung mataku, aku bisa lihat dia mengusap layar ponselnya, lalu tersenyum sendiri.

Lima menit berlalu, dia tiba-tiba menoleh ke arahku.
“Mas sering kerja di sini?” tanyanya.
Aku agak kaget. Jarang ada orang asing yang mengajak ngobrolku.
“Hmm… iya. Lumayan sering. Lebih tenang daripada kantor.”
Dia tersenyum. “Aku juga suka kafe ini. Cuma biasanya penuh banget.”

Aku mengangguk. “Kayaknya kita sama-sama beruntung, hujan bikin orang malas keluar.”
Dia tertawa kecil. “Iya juga ya.”

Lalu percakapan kami mengalir begitu saja. Dari hujan, beralih ke pekerjaan, lalu ke hal-hal receh seperti makanan favorit dan hobi. Aku baru tahu ternyata dia kerja di sebuah perusahaan desain interior, dan namanya Mira.

Mira. Nama itu sederhana, tapi saat dia mengucapkannya, terdengar indah.

Waktu terasa cepat. Tanpa sadar, hujan sudah mulai reda. Mira melirik jam tangannya lalu bersiap pergi.

“Wah, udah jam segini. Aku harus ketemu seseorang. Makasih ya, udah boleh nebeng meja.”
Aku tersenyum. “Sama-sama.”

Dia berdiri, lalu menatapku sebentar. “Mas Arga, ya?”
Aku agak kaget. “Kok tau?”
Dia menunjuk laptopku. Ternyata namaku tertera di layar kerja. Aku ikut tertawa.

“Senang kenal kamu, Arga.”
“Senang kenal kamu juga, Mira.”

Dan begitu saja, dia pergi meninggalkan kafe, menyisakan aroma parfum dan jejak senyum di pikiranku.

Aku menatap hujan yang tersisa di luar jendela, lalu bergumam pelan.
“Sepertinya ini pertama kalinya aku berharap hujan turun lagi.”

Awal Kedekatan

Beberapa hari setelah pertemuan pertama di kafe itu, aku sebenarnya tidak berharap apa-apa. Aku pikir, itu hanya pertemuan singkat, semacam momen kebetulan yang akan hilang begitu saja ditelan kesibukan. Tapi ternyata semesta punya rencana lain.

Hari Jumat sore, aku lagi duduk di kafe yang sama, menunggu hujan reda, ketika suara familiar menyapaku.

“Eh, Mas Arga?”

Aku mendongak, dan benar saja, Mira berdiri di depan meja, kali ini dengan penampilan yang lebih rapi: blazer cokelat muda, rambut terikat sederhana. Senyumnya masih sama tulus dan hangat.

Aku refleks tersenyum balik. “Mira? Wah, dunia sekecil ini ya.”
“Iya,” katanya sambil tertawa kecil. “Boleh duduk lagi?”
“Silakan.”

Seperti sebelumnya, percakapan kami mengalir begitu saja. Awalnya basa-basi soal pekerjaan, tapi lama-lama jadi obrolan tentang hal-hal pribadi. Tentang keluarganya di Bandung, tentang mimpinya punya studio desain sendiri, bahkan tentang film favoritnya yang ternyata sama dengan film favoritku.

Entah kenapa, setiap kali dia bicara, aku merasa nyaman. Bukan hanya karena isi pembicaraannya, tapi karena caranya memandang dunia terasa… berbeda.

Hari demi hari berlalu, dan pertemuan kami tidak lagi sekadar kebetulan. Kadang aku memang sengaja mampir ke kafe itu, berharap dia ada. Kadang justru dia yang mengirim pesan singkat:

"Mas Arga, lagi di mana? Aku lagi di kafe. Kalau deket, mampir dong."

Nomor ponselku dan nomornya saling bertukar secara natural, seakan-akan itu hal wajar.

Obrolan kami makin intens. Dari pesan-pesan singkat, berlanjut jadi telepon larut malam. Mira punya caranya sendiri membuat aku merasa hidupku yang biasanya kaku dan penuh deadline jadi lebih berwarna.

Aku mulai sadar… ada sesuatu yang tumbuh.

Suatu malam, kami duduk di bangku trotoar depan kafe setelah tutup. Hujan baru saja reda, jalanan basah berkilau diterpa lampu jalan. Mira menatap ke langit yang masih berawan.

“Tau nggak, Ga,” katanya pelan, “aku tuh suka banget sama hujan. Rasanya kayak semua hal bisa dipeluk sama suara rintiknya.”
Aku menoleh. “Sama. Buat aku, hujan itu kayak pengingat. Bahwa nggak semua hal bisa kita kontrol. Kadang kita cuma bisa nerima.”

Dia menatapku, lama. Ada sesuatu di matanya semacam sorot yang sulit kuartikan.
“Kalau gitu… kamu percaya takdir?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tersenyum miris. “Aku percaya, kadang takdir bisa sejahil itu. Ngasih kita sesuatu yang kita butuhkan, tapi di waktu yang salah.”

Mira diam. Senyumnya samar, matanya sedikit berkaca-kaca. Aku ingin bertanya, tapi sebelum sempat, ponselnya bergetar. Dia melihat layar, lalu buru-buru berdiri.

“Ga, aku harus pulang sekarang. Maaf ya.”

Aku mengangguk, meski hatiku penuh tanda tanya. Dia melangkah cepat, menghilang di balik keramaian.

Malam itu, aku gelisah. Rasa penasaran bercampur dengan sesuatu yang sulit kuakui: aku mulai jatuh.

Dan jawaban dari semua teka-teki itu datang beberapa minggu kemudian.

Kami baru saja selesai ngobrol di kafe, ketika seorang pria datang menghampiri Mira. Tegap, rapi, dengan tatapan posesif yang langsung menusuk ke arahku. Dia meraih tangan Mira, lalu bertanya dingin.

“Ini siapa, Mira?”

Aku kaget. Mira juga jelas panik, tapi berusaha tersenyum.
“Ini… temen kantor, namanya Arga. Kita kebetulan sering ketemu di sini.”

Aku hanya bisa mengangguk, meski jelas aku bukan teman kantornya. Pria itu menatapku tajam, lalu menggandeng Mira pergi tanpa banyak kata.

Aku duduk terpaku, kopi dingin di depanku tak tersentuh.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk di ponselku. Dari Mira.

"Ga, maaf. Aku belum sempet cerita. Dia tunanganku. Namanya Reza."

Malam itu aku menatap layar ponsel lama sekali. Jantungku terasa berat.

Tunangannya.

Kata itu bergema di kepalaku, menghapus semua percakapan hangat, semua tawa, semua rasa nyaman yang selama ini kubangun. Rasanya seperti hujan yang tiba-tiba berubah jadi badai.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

 Perasaan yang Tak Bisa Disembunyikan

Sejak malam itu, ada jarak yang sulit dijelaskan di antara aku dan Mira. Pesan-pesannya masih ada, obrolan masih terjadi, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang ditahan. Setiap kali aku membaca notifikasi darinya, ada perasaan bersalah yang menyusup pelan-pelan.

Aku tahu, aku seharusnya berhenti. Mira punya tunangan. Segala kedekatan kami hanyalah abu-abu yang bisa jadi berbahaya. Tapi seperti candu, semakin aku mencoba menjauh, semakin aku rindu.

Suatu malam, Mira mengajakku bertemu di kafe. Aku hampir menolak, tapi jari-jariku terlalu cepat membalas: “Oke, aku datang.”

Kali ini, wajahnya terlihat letih. Senyumnya masih ada, tapi redup. Tangannya sibuk memainkan sendok, matanya jarang menatapku langsung.

“Mira, kamu kenapa?” tanyaku hati-hati.
Dia menghela napas panjang. “Aku capek, Ga. Capek pura-pura semuanya baik-baik aja.”

Aku terdiam. Mira jarang sekali bicara seperti ini. Biasanya dia selalu ceria, selalu punya tawa.

“Capek gimana maksudnya?”
Dia menunduk. “Reza… belakangan sibuk banget sama bisnisnya. Katanya buat masa depan kita. Tapi aku ngerasa… aku nggak dianggap. Semua keputusan diambil sendiri. Aku kayak cuma pelengkap.”

Hatiku mengencang. Ada bagian diriku yang marah mendengar itu, tapi aku juga sadar: bukan hakku untuk ikut campur.

Aku memilih diam. Tapi diamku rupanya ditangkap Mira sebagai ruang aman. Dia melanjutkan.

“Aku nggak tau, Ga. Kadang aku mikir… apa aku salah milih? Apa aku terlalu cepat iya waktu dia ngelamar? Padahal aku belum yakin bener-bener siap.”

Kata-kata itu menusuk.

Aku ingin sekali berkata, “Kalau kamu ragu, kenapa nggak sama aku saja?” Tapi lidahku kelu. Yang keluar hanya kalimat datar:
“Setiap orang punya cara sendiri buat nunjukin sayang, Mir. Mungkin Reza cuma lagi fokus.”

Mira menatapku, lama. “Kamu selalu bisa bikin aku tenang, Ga.”

Aku hanya bisa tersenyum kaku. Padahal di dalam hati, aku semakin hancur.

Sejak pertemuan itu, aku makin sadar: aku jatuh cinta. Bukan sekadar nyaman atau kagum. Tapi cinta.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil darinya. Cara dia menyibakkan rambut saat bicara. Cara dia menunduk ketika malu. Tawa kecilnya yang tulus. Semua itu mengendap, menempel di dadaku.

Dan cinta itu makin menyakitkan karena aku tahu, dia bukan milikku.

Malam berikutnya, kami berbincang lewat telepon. Suaranya terdengar pelan, seperti seseorang yang ingin menangis tapi menahannya.

“Ga,” katanya, “aku kadang iri sama kamu.”
“Iri? Sama aku?”
“Iya. Kamu bebas. Hidupmu kamu yang tentuin. Nggak ada orang yang ngatur harus begini, harus begitu. Kamu bisa ngejar apa pun yang kamu mau.”

Aku terdiam.
“Padahal aku pikir aku udah bahagia dengan pilihanku. Tapi kenapa sekarang aku ragu?”

Kali ini aku tak bisa menahan diri. “Mir, kalau kamu ngerasa nggak bahagia, kamu punya hak buat mikir ulang. Jangan karena kamu takut orang lain kecewa, terus kamu korbankan diri sendiri.”

Hening.

Lalu suara Mira terdengar, lirih.
“Kamu sadar nggak sih, Ga… kalau aku lebih sering ketemu kamu daripada tunanganku sendiri?”

Dadaku bergetar. Kata-kata itu seperti percikan api yang menyambar bensin.

“Mira…” suaraku pelan, “kamu sadar nggak, itu bisa berarti sesuatu?”

Dia tak menjawab. Tapi aku bisa mendengar napasnya yang berat di ujung telepon.

Malam itu aku tak bisa tidur. Kata-kata Mira terus terngiang. Ada kemungkinan… dia juga merasakan hal yang sama.

Tapi itu justru membuatku lebih kacau. Aku tahu aku sedang berdiri di tepi jurang: satu langkah lagi bisa menghancurkan segalanya.

Aku ingin bersama Mira. Tapi aku juga tahu, di balik itu ada janji, ada pertunangan, ada kehidupan orang lain yang bisa rusak.

Cinta pertama yang kuharapkan jadi indah, justru berubah jadi pertarungan batin paling berat dalam hidupku.

Dan aku… tidak tahu harus memilih yang mana: hati, atau logika.

Menjauh yang Justru Mendekatkan

Aku tahu aku sudah kelewat batas.
Obrolan, tawa, bahkan keheningan bersama Mira sudah masuk ke wilayah yang seharusnya bukan milikku.

Maka suatu pagi, aku nekat mengambil keputusan.
Aku harus menjauh.

Aku sengaja tidak membalas pesannya. Aku menolak ajakan nongkrong dengan alasan lembur. Telepon larut malam yang biasanya kuangkat, kali ini kubiarkan berdering sampai mati.

Awalnya berat, tapi aku terus meyakinkan diri: ini yang benar. Aku tidak boleh menjadi orang ketiga.

Beberapa hari pertama, Mira masih mencoba menghubungi. Pesan-pesannya tetap masuk:

"Ga, kamu sibuk banget ya?
Ga, kamu nggak apa-apa kan?
Ga, aku nunggu di kafe… tapi kayaknya kamu nggak dateng ya?"

Sakit sekali rasanya membaca semua itu, tapi aku tetap diam. Aku tahu, kalau aku membalas satu saja, aku akan kembali tenggelam.

Lalu, lama-lama pesannya mulai berkurang. Dan pada akhirnya, berhenti sama sekali.

Aku berhasil… atau setidaknya begitu pikirku.

Sampai suatu sore, aku pulang kerja agak cepat dan memutuskan mampir ke kafe itu.
Entah kenapa, kaki ini otomatis melangkah ke sana, seolah mencari sesuatu yang hilang.

Dan benar saja, Mira duduk sendirian di pojok. Rambutnya dibiarkan terurai, matanya kosong menatap cangkir di depannya. Tidak ada senyum, tidak ada cahaya yang biasanya selalu memancar darinya.

Aku bimbang. Harusnya aku berbalik dan pergi. Tapi tubuhku malah berjalan mendekat.

“Mira.”

Dia mendongak, jelas kaget melihatku. Sekilas ada binar di matanya, tapi cepat-cepat dia sembunyikan.

“Ga,” katanya pelan. “Kamu ke mana aja?”

Aku tercekat. “Aku… sibuk.”
Dia tersenyum miris. “Kamu bohong. Aku tau kamu sengaja ngejauh.”

Aku menunduk, tak bisa menyangkal.
“Mira, aku nggak mau nyakitin siapa pun. Termasuk kamu. Aku—aku nggak boleh ada di antara kamu sama Reza.”

Mira terdiam lama. Lalu suaranya pecah, lirih.
“Ga, aku justru sadar banyak hal sejak kamu menjauh. Aku sadar kalau tanpa kamu, hari-hariku hampa. Aku bisa ngobrol sama Reza berjam-jam tapi rasanya nggak nyambung. Aku bisa jalan sama dia, tapi nggak pernah selega kalau sama kamu.”

Kata-katanya membuat dadaku bergetar hebat.
“Mira, jangan ngomong gitu…”
“Tapi itu kenyataan, Ga. Aku nggak bisa bohong sama hatiku sendiri.”

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Mira mulai berani lebih terbuka tentang hubungannya dengan Reza.

Dia sering bercerita bagaimana Reza makin jarang menemuinya, lebih sibuk dengan bisnis yang katanya “demi masa depan mereka”. Tapi di balik itu, Mira merasa seperti tak dianggap.

“Ga,” katanya suatu malam lewat telepon, “aku pernah bilang ke Reza kalau aku pengen dia sekadar dengerin aku cerita sehari-hari. Jawabannya cuma, ‘Nanti aja, aku capek.’ Padahal aku cuma pengen dia tau kalau aku butuh didengar.”

Aku mendengarkan, dengan hati yang campur aduk.
Satu sisi aku ingin sekali memeluknya, bilang kalau aku bisa jadi semua yang dia butuhkan.
Tapi sisi lain, aku takut. Karena semakin jauh aku masuk, semakin tipis garis yang kupijak.

Sampai akhirnya, Reza datang menghampiriku.

Itu terjadi di parkiran kafe. Aku baru saja keluar, ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan. Reza turun, wajahnya dingin.

“Arga, ya?” suaranya tegas.
Aku hanya mengangguk.

“Aku nggak tau apa yang kamu lakuin, tapi tolong jauhi Mira. Dia tunanganku. Jangan bikin dia bingung.”

Aku menatapnya. Ada amarah yang ingin meledak, tapi kutahan.
“Kalau kamu bener-bener sayang sama dia, Reza… kenapa kamu nggak ada buat dia? Kenapa kamu biarin dia sendirian?”

Reza terdiam sejenak, lalu rahangnya mengeras. “Urusan gue sama dia, bukan urusan lo.”

Dia masuk mobil lagi, melaju pergi. Meninggalkan aku dengan dada sesak.

Malam itu Mira menghubungiku lagi. Suaranya terdengar gemetar.
“Ga… Reza dateng ke rumah. Kita ribut. Dia nuduh aku main hati. Aku coba jelasin, tapi dia malah makin marah. Ga, aku takut pernikahan ini justru bikin aku sengsara.”

Aku menutup mata. Pertahanan yang selama ini kubangun runtuh begitu saja.
“Mira,” kataku pelan, “aku nggak bisa janji banyak. Tapi aku janji satu hal: aku nggak akan biarin kamu ngerasa sendirian.”

Keheningan panjang di ujung telepon, lalu suara Mira terdengar serak tapi mantap.
“Ga… mungkin aku harus berani ambil keputusan. Sebelum semuanya terlambat.”

Hujan yang Membawa Keputusan

Hari itu, kota dipenuhi kabar bahagia. Undangan sudah tersebar, dekorasi sudah dipasang. Mira seharusnya duduk di pelaminan bersama Reza dalam hitungan hari.

Tapi justru saat semua orang sibuk menyiapkan pesta, Mira merasa dadanya makin sesak.

“Kenapa aku nggak bisa bahagia, Ma?” tanyanya lirih kepada ibunya di ruang keluarga. “Semua orang seneng, tapi aku… kosong.”

Sang ibu menatap lembut, lama. “Nak, pernikahan bukan soal bikin orang lain bahagia. Itu tentang kamu. Kalau kamu sendiri nggak yakin, lebih baik jangan dipaksakan. Mama nggak mau lihat kamu menderita seumur hidup.”

Air mata Mira jatuh. Dukungan itu membuat hatinya mantap.

Dua hari sebelum pernikahan, Mira akhirnya bicara pada Reza.
“Reza, aku… nggak bisa lanjut.”

Reza menatapnya, syok. “Apa? Kamu bercanda? Undangan udah nyebar, semua orang nungguin!”
“Aku nggak peduli undangan, aku nggak peduli pesta. Aku cuma nggak mau salah pilih pasangan seumur hidupku.”

Reza mengepalkan tangan. “Jadi ini gara-gara Arga?!”
Mira menatapnya, basah oleh air mata. “Ini bukan tentang Arga. Ini tentang aku, tentang kita. Aku sadar… kita nggak cocok. Aku nggak bahagia, Rez.”

Reza tak bisa menerima. Tapi pada akhirnya, Mira berdiri tegak dengan keputusannya. Pernikahan itu batal.

Malamnya, hujan turun deras. Mira berlari keluar rumah, mencari udara segar, mencari keberanian. Dan tanpa sadar, kakinya membawanya ke kafe tempat semua cerita dimulai.

Dan di sana seperti takdir yang tak bisa dihindari aku sudah duduk, menatap hujan di balik kaca.

Mira berdiri di depan pintu, tubuhnya basah kuyup. Saat aku melihatnya, waktu seolah berhenti.

“Mira…” suaraku tercekat.
Dia tersenyum tipis, lalu air matanya pecah. “Aku nggak jadi menikah, Ga. Aku nggak bisa bohong lagi. Dari awal… hatiku milikmu.”

Aku terdiam, mencoba mencerna. Hujan di luar semakin deras, tapi di dadaku ada kehangatan yang tak bisa dibendung.

Aku berdiri, melangkah mendekat. Dan saat akhirnya aku memeluknya, semua kegelisahan yang selama ini mengikatku runtuh begitu saja.

“Kamu yakin, Mir?” bisikku.
Dia mengangguk di bahuku. “Aku yakin. Kalau sama kamu, aku nggak perlu pura-pura.”

Hujan menjadi saksi. Untuk pertama kalinya, aku dan Mira berani memilih—meski jalan yang kami tempuh tak mudah, setidaknya kali ini benar-benar milik kami.

Akhir yang Baru Dimulai

Sudah tiga bulan berlalu sejak hari itu.
Tiga bulan sejak Mira dengan berani membatalkan pernikahan yang hampir terjadi.
Tiga bulan sejak aku merangkulnya di bawah hujan, membiarkan dunia tahu bahwa aku dan dia memilih satu sama lain.

Hidup setelah itu tentu tidak mudah. Gosip bermunculan. Ada yang bilang Mira egois, ada pula yang menyebutku perusak hubungan orang. Tapi anehnya, semua itu tidak lagi terasa berat. Karena setiap kali aku melihat Mira tersenyum, aku tahu semua perjuangan itu tidak sia-sia.

Mira sekarang lebih berani menjalani hidupnya. Dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di perusahaan lama dan mulai mengejar mimpinya membuka studio seni kecil-kecilan. Aku mendukung sepenuhnya. Bahkan setiap pulang kerja, aku selalu mampir ke studionya, membantunya mengecat dinding atau sekadar membuatkan kopi.

“Aku nggak pernah ngerasa sebahagia ini,” kata Mira suatu sore, saat kami duduk di bangku kayu yang baru dicat. Tangannya belepotan warna biru muda.
Aku terkekeh. “Bahagia karena studionya mau buka, atau karena ada aku?”
Dia mencubit lenganku. “Dua-duanya.”

Aku menatap wajahnya, dan di saat itu aku sadar: inilah rumahku. Bukan sebuah bangunan, bukan sebuah kota melainkan seseorang. Mira.

Kadang aku masih teringat masa-masa awal.
Betapa aku berusaha mati-matian menahan perasaan. Betapa aku mencoba menjauh, meyakinkan diri bahwa ini salah. Tapi pada akhirnya, bukankah cinta memang selalu menemukan jalannya?

Aku belajar, cinta tidak pernah salah. Yang salah adalah ketika kita memaksakan diri menjalani sesuatu yang tidak membuat kita bahagia.

Mira mengajarkanku satu hal penting: keberanian untuk memilih. Dan aku bangga padanya, karena dia berani melawan arus, berani mengecewakan banyak orang demi tidak mengecewakan dirinya sendiri.

Suatu malam, kami kembali ke kafe yang dulu jadi saksi semua cerita. Meja pojok itu masih sama, lampu gantungnya masih redup seperti dulu. Bedanya, kali ini kami duduk berdampingan, tanpa ada lagi rahasia atau keraguan.

“Mira,” kataku sambil menatapnya, “kalau waktu bisa kuputar ulang… aku nggak akan ubah apa pun. Termasuk rasa sakit, ragu, dan ketakutan itu. Karena semua itu yang bawa aku ke kamu.”

Mira tersenyum, lalu menggenggam tanganku erat.
“Aku juga, Ga. Aku nggak nyesel. Mungkin jalan kita nggak mulus, tapi justru itu yang bikin aku yakin: kalau kita bisa lewatin semua ini, berarti kita bisa hadapi apa pun nanti.”

Aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku berdoa, semoga semesta kali ini benar-benar berpihak pada kami.

Dan malam itu, di antara secangkir kopi yang mulai dingin dan suara musik akustik yang samar terdengar, aku tahu satu hal pasti: cerita ini belum selesai.

Justru baru saja dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang