Puisi Kedelapan – Titik Air Mata

 


Puisi Kedelapan – Titik Air Mata

Pengantar

Air mata sering dianggap simbol kelemahan, padahal ia adalah bahasa hati yang paling jujur. Dalam setiap tetesnya, ada luka, ada doa, ada harapan, bahkan ada cinta. Puisi ini mencoba menyingkap makna di balik sebuah titik air mata.



😢 Titik Air Mata 😢

Di sudut senja yang sepi,
jatuhlah satu titik air mata.
Diam-diam ia mengalir,
membasuh wajah yang lelah,
membawa kisah yang tak terucapkan.

Air mata bukan sekadar bening,
ia adalah tinta jiwa.
Menuliskan cerita yang tak sempat
terucap dengan kata.

Ada duka di dalamnya,
ada rindu yang tak tersampaikan,
ada doa yang terselip pelan,
ada cinta yang tak pernah padam.

Satu titik jatuh,
lalu disusul yang lain.
Hingga wajah menjadi lautan kecil,
tempat segala rasa berkumpul.

Namun, di balik air mata itu,
ada kekuatan yang lahir.
Sebab jiwa yang berani menangis
adalah jiwa yang berani jujur pada dirinya sendiri.

Maka jangan takut pada air mata.
Biarlah ia jatuh,
biarlah ia mengalir.
Sebab setelahnya,
akan ada senyum yang lebih tulus,
akan ada hati yang lebih lapang,
akan ada jiwa yang lebih kuat.


Makna Puisi

“Titik Air Mata” melukiskan bahwa menangis bukanlah kelemahan, melainkan cara jiwa membersihkan luka. Air mata adalah bahasa kejujuran hati ia bisa membawa kesedihan, cinta, maupun harapan.


Penutup

Setiap titik air mata memiliki cerita. Jangan malu meneteskan air mata, sebab ia adalah bukti bahwa kita manusia yang memiliki hati.

Salam sastra,
Risti Windri Pabendan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang