Puisi Keempat – Bunga yang Gugur

 



Tidak semua yang indah bertahan selamanya. Ada bunga yang mekar, lalu gugur; ada cinta yang hadir, lalu pergi. Namun, di balik setiap kehilangan, selalu ada pelajaran tentang arti menerima dan ikhlas.

Puisi ini saya tulis untuk mereka yang pernah merasakan kehilangan sebagai bentuk pelukan hangat dalam kata-kata.



🌹 Bunga yang Gugur 🌹

Di taman hati yang pernah mekar,
sebuah bunga indah tumbuh penuh cahaya.
Wanginya menenangkan, warnanya menghidupkan,
ia pernah jadi alasan senyum
dan tempat teduh bagi jiwa yang lelah.

Namun musim berganti,
angin membawa kabar yang tak terelakkan.
Kelopak yang dulu segar kini merunduk,
warna yang dulu cerah kini memudar.
Dan perlahan, satu per satu,
bunga itu pun gugur dari tangkainya.

Aku menatapnya jatuh,
dengan mata yang basah dan hati yang berat.
Ingin kugenggam erat,
tapi waktu tak memberi kesempatan.
Aku hanya bisa merelakan,
bahwa tak ada yang abadi,
bahwa semua yang indah pun
punya saatnya pergi.

Namun, aku belajar dari bunga itu:
bahwa setiap gugur membawa arti.
Ia tak hilang sia-sia,
sebab tanah akan menyambutnya,
dan dari sana, kehidupan baru akan tumbuh kembali.

Maka aku tersenyum di balik tangis,
membiarkan bunga itu pergi,
percaya bahwa dalam setiap gugur,
ada janji tentang mekar yang lain,
ada harapan tentang indah yang baru.


Makna Puisi

“Bunga yang Gugur” adalah refleksi tentang kehilangan dan keikhlasan. Bahwa tak ada yang abadi, bahkan hal-hal terindah pun akan pergi. Tetapi, di balik kehilangan, selalu ada ruang untuk tumbuh kembali.



Penutup

Kehidupan selalu bergerak, dan kehilangan adalah bagian dari perjalanan itu. Mari belajar merelakan, sebab di setiap gugurnya bunga, ada benih baru yang menanti untuk mekar.

Salam penuh cinta dan sastra,
Risti Windri Pabendan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang