Puisi Keenam – Bayangan Cinta Pengantar

 


Puisi Keenam – Bayangan Cinta

Pengantar

Cinta sering kali hadir seperti bayangan: selalu ada, selalu mengikuti, tetapi tak selalu bisa tergenggam. Kadang ia nyata, kadang semu. Puisi ini mencoba menangkap rasa cinta yang indah sekaligus misterius seperti bayangan yang menari di bawah cahaya.


💕 Bayangan Cinta 💕

Aku menatap jalan yang panjang,
dan di sisinya kulihat sebuah bayangan.
Ia berjalan bersamaku,
meski langkahku goyah,
meski jalanku tak selalu lurus.

Bayangan itu,
menyerupai wujudmu.
Setiap kali aku ingin meraihnya,
ia menjauh,
menyisakan ruang kosong di tanganku.

Namun, aku tak pernah berhenti mencari.
Sebab setiap detik bersamanya
adalah pengingat bahwa aku tidak sendiri.
Cinta, meski tak selalu nyata,
selalu ada dalam bentuk yang berbeda.

Kadang ia hadir dalam tawa,
kadang dalam diam,
kadang dalam doa
yang kuselipkan di antara sujud dan malam.

Bayangan cinta ini menemaniku,
meski tak bisa kugenggam,
meski tak bisa kupeluk.
Ia tetap ada,
setia menari di bawah cahaya
yang tak pernah padam.

Maka, aku belajar:
bahwa cinta bukan sekadar memiliki,
tetapi tentang keberadaan yang abadi.
Dan meski kau hanyalah bayangan,
aku bahagia,
karena denganmu,
langkahku terasa lebih ringan.


Makna Puisi

“Bayangan Cinta” menggambarkan cinta yang hadir dalam bentuk tak kasatmata. Bukan soal memiliki, melainkan merasakan kehadiran, meski hanya seperti bayangan. Cinta bisa nyata, bisa semu, tetapi tetap memberi arti mendalam dalam perjalanan hidup.


Penutup

Cinta tidak selalu harus terlihat jelas untuk bisa dirasakan. Kadang, ia cukup hadir sebagai bayangan, menemani langkah, dan memberi kekuatan di saat kita merasa sendirian.

Salam sastra,
Risti Windri Pabendan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang