Puisi Kelima – Pelukan Senja

 


Puisi Kelima – Pelukan Senja


Senja selalu punya cara istimewa untuk menenangkan hati. Ia bukan hanya tentang keindahan langit jingga, tetapi juga tentang pertemuan singkat, pelukan hangat, dan kenangan yang tak terlupakan.
Puisi ini hadir untuk merayakan keindahan perpisahan yang indah sebuah pelukan senja.


🌅 Pelukan Senja 🌅

Di ufuk barat, matahari beranjak pulang,
membawa sisa cahaya yang perlahan meredup.
Langit memerah, jingga bertabur ungu,
seakan melukis kanvas terakhir
sebelum malam mengambil alih panggung.

Di tepi pantai itu, aku berdiri.
Menatap cahaya yang memudar,
merasakan hembusan angin
yang membawa aroma asin lautan
dan bisikan waktu yang tak bisa kuhentikan.

Kau datang, tanpa kata.
Hanya tatapan yang berbicara,
hanya senyum yang menenangkan,
hanya kehadiranmu yang mengisi ruang
di antara detik-detik yang kian cepat berlari.

Dan di bawah langit senja,
kau merengkuhku dalam pelukan.
Hangat, meski singkat.
Tenang, meski sebentar.
Seolah dunia berhenti berputar,
dan hanya ada kita berdua
dalam ruang kecil bernama kenangan.

Aku tahu, senja tak bertahan lama.
Seperti pelukanmu,
ia harus pergi,
meninggalkan malam
yang mungkin terasa dingin.

Namun, aku juga tahu,
setiap senja selalu kembali.
Dan meski pelukan ini tak abadi,
jejaknya akan tetap tinggal,
sebagai cahaya kecil
yang menerangi hatiku
saat gelap datang.


Makna Puisi

“Pelukan Senja” bercerita tentang momen singkat yang penuh makna sebuah pertemuan, sebuah pelukan, yang meski tak abadi, meninggalkan kehangatan dalam kenangan. Senja adalah simbol perpisahan, tetapi juga janji bahwa keindahan akan selalu kembali.


Penutup

Tidak semua yang indah perlu bertahan selamanya. Kadang, justru karena singkat, ia terasa lebih berharga. Seperti senja, seperti pelukan, yang datang dan pergi, tapi selalu kita simpan di dalam hati.

Salam sastra,
Risti Windri Pabendan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang