Puisi Kesembilan – Langkah Sunyi

 


Puisi Kesembilan – Langkah Sunyi


Ada saatnya manusia harus berjalan sendirian, menapaki jalan yang mungkin tak dipahami orang lain. Langkah sunyi bukan berarti lemah, justru ia adalah perjalanan batin menuju kedewasaan.


🚶‍♀️ Langkah Sunyi 🚶‍♀️

Di jalan panjang tanpa suara,
aku berjalan perlahan.
Hanya bayangan yang menemaniku,
hanya angin yang menyapa lembut pipiku.

Tak ada kata,
tak ada tawa,
hanya gema langkah sendiri
di antara kerikil waktu.

Sunyi ini bukan kesepian,
ia adalah ruang untuk mendengar diri.
Ruang untuk bertanya,
untuk menjawab,
untuk merangkul jiwa yang kadang terlupa.

Setiap langkah yang kuambil
bukanlah kehilangan,
melainkan penemuan.
Aku menemukan diriku,
di balik keramaian yang lama menutupinya.

Ada lelah yang menetes,
ada doa yang terucap diam-diam,
ada harapan yang kian menyala,
meski dalam sunyi yang panjang.

Langkah sunyi bukanlah akhir,
ia adalah awal perjalanan baru.
Sebab dari kesendirian inilah
lahir kekuatan,
lahir keberanian,
lahir keteguhan untuk terus melangkah.

Dan kelak,
ketika aku menoleh ke belakang,
aku akan tersenyum.
Sebab aku tahu,
sunyi ini pernah menuntunku
menjadi diriku yang sebenarnya.


Makna Puisi

“Langkah Sunyi” adalah perjalanan refleksi diri. Kesunyian bukan berarti kosong, justru di sanalah seseorang bisa lebih mengenal dirinya, menemukan arti hidup, dan melahirkan kekuatan batin.


Penutup

Kesunyian kadang menakutkan, tapi ia bisa menjadi guru terbaik. Berjalanlah dalam langkah sunyi, karena di sana ada jawaban yang tak ditemukan di tengah keramaian.

Salam sastra,
Risti Windri Pabendan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang