Puisi Kesepuluh – Pelukan Senja
Puisi Kesepuluh – Pelukan Senja
Senja selalu membawa rasa hangat yang tak tergantikan. Warnanya yang lembut bagaikan pelukan terakhir hari, sebelum malam datang menyelimuti. Dalam puisi ini, senja hadir sebagai simbol kerinduan, kedamaian, dan cinta yang sederhana.
🌅 Pelukan Senja 🌅
Di ufuk barat,
langit mulai merona jingga.
Cahaya terakhir hari
merangkul bumi perlahan,
seakan ingin berkata:
“Jangan takut pada gelap,
aku akan selalu kembali esok.”
Aku berdiri di tepi senja,
membiarkan hangatnya memeluk jiwa.
Setiap gurat warnanya
adalah lukisan cinta
yang digoreskan semesta.
Ada rindu di dalamnya,
rindu pada wajahmu
yang dulu pernah duduk bersamaku
menatap langit yang sama.
Kini aku sendiri,
namun senja tetap setia.
Ia hadir dengan pelukan lembut,
mengingatkanku bahwa perpisahan
bukanlah akhir,
melainkan jeda
menuju pertemuan lain.
Pelukan senja mengajarkanku
tentang ikhlas,
tentang melepaskan yang hilang,
tentang percaya pada waktu.
Dan ketika malam menutup langit,
aku tersenyum dalam diam.
Sebab pelukan senja
telah menenangkan hatiku,
membisikkan janji bahwa esok
selalu ada harapan baru.
Makna Puisi
“Pelukan Senja” menggambarkan senja sebagai pelukan penuh makna tentang kerinduan, perpisahan, dan keikhlasan. Senja menjadi simbol cinta yang sederhana, namun dalam.
Penutup
Senja adalah guru yang lembut. Ia mengajarkan kita tentang melepas dan menerima. Dalam pelukannya, kita belajar bahwa setiap akhir selalu membawa harapan baru.
Salam sastra,
Risti Windri Pabendan
Komentar
Posting Komentar