Senja Kali Ini Mengajarkanku Arti Bersyukur

 


Catatan Harian Keempat

🌇 Senja Kali Ini Mengajarkanku Arti Bersyukur 🌇

Hari ini aku pulang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ketika sampai di rumah, langit sudah mulai berubah warna—perlahan berganti dari biru terang menjadi jingga keemasan. Aku duduk di beranda, memandangi langit yang seolah sedang melukis dirinya sendiri.

Senja kali ini terasa berbeda. Ada kelembutan yang menenangkan, ada cahaya yang membuat hati hangat. Aku membiarkan diriku larut dalam momen itu, tanpa memikirkan apa pun, tanpa terburu-buru.

Di tengah kesibukan sehari-hari, sering kali aku lupa berhenti sejenak. Aku sibuk mengejar target, sibuk mengkhawatirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Padahal, dunia ini selalu memberi kita kesempatan untuk sekadar menikmati seperti senja yang hadir setiap hari, gratis, sederhana, tapi begitu indah.

Aku jadi sadar, rasa syukur tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kadang, ia lahir dari langit yang berwarna jingga, dari udara sore yang lembut, atau bahkan dari waktu hening yang memberi ruang untuk bernapas.

Senja kali ini mengajarkanku bahwa hidup tidak harus sempurna untuk bisa disyukuri. Cukup dengan masih bisa melihat cahaya, masih bisa merasakan angin, dan masih bisa duduk dengan tenang itu pun sudah anugerah.

🌇 Catatan untuk diriku sendiri:
“Jangan tunggu kebahagiaan besar untuk bersyukur. Mulailah dari senja yang sederhana, karena di sanalah Tuhan menitipkan ketenangan.”

Salam hangat,
Risti Windri Pabendan 🌹

Komentar

Postingan populer dari blog ini

✍️ Draft Artikel Blog: Tentang Penulis – Risti Windri Pabendan

Puisi Ketiga – Langkah Sepi

Langkah di Jalan Pulang