Puisi Ketujuh – “Rindu di Pangkuan Ibu”
Puisi Ketujuh “Rindu di Pangkuan Ibu”
Ada satu tempat di dunia ini yang selalu membuat kita merasa aman, meski dunia di luar sedang kacau: pangkuan orang tua. Ada satu tatapan yang mampu meredakan segala cemas: tatapan seorang ibu. Ada satu genggaman yang mampu menenangkan jiwa: genggaman seorang ayah.
Namun sering kali, kita baru benar-benar merasakan betapa berharganya kehadiran mereka ketika jarak sudah terbentang, atau ketika waktu tak lagi memberi kesempatan untuk bersama. Rindu pada orang tua adalah rindu yang paling dalam, rindu yang penuh doa, rindu yang tidak pernah benar-benar terobati.
Setiap anak pasti punya kenangan masing-masing bersama orang tuanya. Ada yang merindukan suara lembut ibu yang selalu menasihati, ada yang merindukan pelukan hangat ayah setelah pulang kerja, ada yang merindukan aroma masakan sederhana yang terasa paling lezat karena dimasak dengan cinta. Semua kenangan itu, sekecil apa pun, selalu melekat dalam hati, menjadi bagian dari siapa kita hari ini.
Puisi “Rindu di Pangkuan Ibu” saya tulis sebagai persembahan untuk setiap hati yang merindukan orang tuanya. Bagi yang orang tuanya masih hidup, semoga puisi ini mengingatkan untuk lebih menghargai dan meluangkan waktu. Bagi yang orang tuanya sudah tiada, semoga puisi ini menjadi doa dan pengingat bahwa cinta mereka tidak pernah benar-benar hilang.
👩👦 Rindu di Pangkuan Ibu 👩👦
Ada rindu yang tak pernah padam,
meski waktu terus berjalan.
Rindu akan pelukan hangat,
rindu pada doa yang tak pernah putus.
Ibu,
suaramu masih bergema dalam ingatan,
menjadi nyanyian tidur di malam yang sunyi.
Ayah,
langkahmu masih terdengar dalam kenangan,
menjadi penopang di saat aku hampir jatuh.
Kini jarak memisahkan kita,
atau mungkin hanya doa yang masih menyatukan.
Namun hatiku selalu kembali,
ke rumah sederhana,
ke pangkuan ibu,
ke genggaman ayah.
Makna Puisi
Puisi ini menggambarkan kerinduan seorang anak kepada orang tua. Ia berbicara tentang pelukan, doa, dan kenangan yang tidak akan pernah tergantikan. Meski jarak atau waktu memisahkan, cinta orang tua selalu hidup dalam hati.
Makna yang bisa dipetik:
-
Orang tua adalah rumah sejati yang selalu kita rindukan.
-
Rindu kepada orang tua adalah doa yang terus hidup.
-
Kenangan bersama mereka adalah warisan yang paling berharga.
Penutup
Rindu pada orang tua adalah rindu yang suci. Tidak ada keinginan lain di dalamnya kecuali ingin kembali ke masa-masa sederhana, ketika kita masih bisa bercerita tanpa henti di ruang tamu kecil, ketika kita masih bisa tertidur di pangkuan ibu, ketika kita masih bisa merasa dunia begitu aman karena ada ayah yang selalu menjaga.
Namun waktu berjalan, kita tumbuh, mereka menua. Ada jarak yang tercipta karena kesibukan, ada pula jarak yang lebih jauh karena takdir. Kadang kita hanya bisa mengirim kabar lewat suara, kadang kita hanya bisa memandang foto, dan kadang, kita hanya bisa berdoa.
Jika orang tuamu masih ada hari ini, jangan biarkan rindu hanya tersimpan dalam hati. Teleponlah mereka, kunjungi mereka, atau sekadar ucapkan “terima kasih” untuk segala hal kecil yang telah mereka lakukan. Karena cinta mereka adalah cinta yang paling tulus, dan waktu bersama mereka adalah waktu yang tidak akan pernah bisa diulang.
Dan bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, jangan biarkan duka menghapus rasa syukur. Ingatlah bahwa doa adalah jembatan yang tidak pernah putus. Setiap kebaikan yang kita lakukan, setiap doa yang kita panjatkan, adalah hadiah yang akan sampai pada mereka.
Rindu pada orang tua memang tak pernah hilang, tapi rindu itulah yang membuat kita tetap terhubung. Karena cinta seorang anak dan cinta orang tua tidak pernah mengenal kata akhir.
Salam penuh cinta dan kerinduan,
✍️ Risti Windri Pabendan
Komentar
Posting Komentar