Cerpen 🌊 Jejak di Pasir Waktu
🌊 Jejak di Pasir Waktu
Karya: Risti Windri Pabendan
“Beberapa jejak tak perlu dihapus oleh ombak, karena mereka memang ditulis untuk dikenang — bukan untuk dilupakan.”
Pulang ke Pantai yang Sama
Angin sore berhembus lembut, membawa aroma asin laut yang akrab.
Langit berwarna oranye pucat, garis cakrawala memantulkan cahaya terakhir sebelum senja benar-benar menutup mata.
Pantai itu masih sama garis pasir yang panjang, rindang pohon kelapa di ujung barat, dan suara debur ombak yang tak pernah bosan menyapa.
Aku berjalan pelan, membiarkan butiran pasir masuk di antara sela-sela jari kakiku. Setiap langkah terasa seperti menelusuri kenangan.
Dulu, di sinilah kami berlari tanpa arah.
Tertawa tanpa beban.
Bermimpi besar tentang dunia yang belum kami kenal.
Sekarang aku kembali sendirian.
Dan dunia sudah tidak lagi sama.
Surat dari Masa Lalu
Aku masih ingat bagaimana surat itu datang.
Sebuah amplop cokelat lusuh tanpa nama pengirim, hanya bertuliskan:
“Temui aku di pantai kita senja hari Sabtu.”
Tulisan tangannya aku kenal betul.
Rapi, miring sedikit ke kanan, dan selalu ada garis kecil di huruf “t” yang seolah terlalu panjang.
Itu tulisan Arga.
Sahabatku sejak kecil.
Teman yang dulu paling tahu cara membuatku tertawa saat dunia terasa berat.
Teman yang dulu aku pikir akan selalu ada.
Tapi hidup punya cara sendiri memisahkan langkah-langkah kami.
Arga dan Tahun-tahun yang Hilang
Sudah delapan tahun sejak terakhir kali aku melihatnya.
Kami berpisah di stasiun hari itu, hujan turun deras, dan kami sama-sama diam terlalu lama.
Aku berangkat ke kota lain mengejar mimpi.
Dia tetap di kampung, mengurus ayahnya yang sakit dan bengkel kecil di belakang rumah.
Kami berjanji akan tetap menulis surat, tapi seiring waktu, janji itu larut seperti tinta yang disiram hujan.
Kadang aku masih mengingat wajahnya
senyum yang setengah menertawakan, setengah menyembunyikan sesuatu.
Senyum yang dulu menemaniku melewati banyak malam takut dan cemas tentang masa depan.
Dan kini, surat itu datang lagi.
Setelah delapan tahun, entah kenapa aku merasa aku harus datang.
Senja dan Seseorang di Tepi Air
Langkahku berhenti ketika kulihat sosok berdiri di tepi air, menghadap ke laut.
Kemeja putih, celana panjang yang digulung, dan tangan yang menggenggam sandal di sisi.
Siluetnya samar diterpa cahaya senja, tapi aku tahu bahkan dari jauh, aku tahu itu dia.
“Arga?”
Suara itu keluar pelan, hampir ragu.
Ia menoleh, dan senyum itu kembali masih sama.
Hanya ada garis-garis halus di ujung matanya kini.
“Masih tahu aku, ya?” katanya, setengah bercanda.
Aku tersenyum.
“Sulit melupakan orang yang suka makan es krim rasa durian di tengah hujan.”
Ia tertawa kecil.
“Dan kamu masih suka mengingat hal-hal aneh.”
Kami diam sejenak.
Angin lewat di antara kami, membawa aroma laut dan masa lalu.
Percakapan yang Tertinggal
Kami duduk di atas pasir, di bawah pohon pandan yang sama tempat kami dulu menulis nama di tanah.
Arga menatap laut lama sekali sebelum bicara.
“Kamu tahu, aku hampir gak ngirim surat itu.”
“Kenapa?”
“Takut kamu gak datang. Atau kalau pun datang, kamu udah jadi orang yang berbeda.”
Aku menatapnya.
Wajahnya berubah, tapi sorot matanya masih sama.
Ada sesuatu di sana campuran antara penyesalan dan ketenangan.
“Aku datang karena aku merasa harus,” kataku akhirnya. “Bukan karena ingin membuka masa lalu, tapi karena aku ingin menutupnya dengan benar.”
Ia tersenyum kecil, tapi aku tahu kata-kataku menembusnya.
Tentang Waktu dan Luka
Arga bercerita tentang ayahnya yang meninggal dua tahun lalu.
Tentang bengkel kecil yang kini sudah tutup karena kalah oleh bengkel modern di kota.
Tentang hari-hari sepi yang ia isi dengan memperbaiki sepeda butut anak-anak tetangga hanya untuk mendengar tawa mereka.
“Aku sempat nyalahin diriku sendiri,” katanya pelan. “Karena waktu kamu pergi, aku pikir aku juga bisa melangkah. Tapi ternyata aku malah terjebak di sini.”
Aku menatap laut, mencari kata.
“Kadang bertahan juga bentuk keberanian, Ga.”
Ia menatapku, matanya lembut.
“Dan kamu, udah bahagia?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut.
Aku tak tahu harus menjawab apa.
Bahagia
kata itu terlalu sederhana untuk hidup yang begitu rumit.
“Aku sedang belajar,” jawabku akhirnya. “Belajar menerima bahwa tidak semua mimpi harus menjadi nyata untuk bisa disebut indah.”
Ia mengangguk, dan kami kembali diam.
Mungkin itu percakapan terbaik kami sejauh ini percakapan yang tidak butuh terlalu banyak kata.
Jejak yang Perlahan Hilang
Matahari mulai tenggelam.
Langit memerah, lalu perlahan memudar ke ungu tua.
Ombak datang lebih tinggi, menyentuh jejak kaki kami di pasir.
“Lucu ya,” kataku, “dulu kita suka berlomba siapa yang bisa bikin jejak paling panjang.”
Arga tersenyum, lalu menatap ombak yang menghapus langkah kami satu per satu.
“Sekarang aku malah senang lihat jejaknya hilang,” katanya.
“Artinya kita udah berjalan sejauh ini.”
Aku menatapnya dan entah kenapa, mataku panas.
Bukan karena sedih.
Tapi karena aku tahu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami berdua akhirnya sampai.
Saat Senja Benar-benar Pulang
Kami berdiri di tepi air, membiarkan ombak terakhir menyapa kaki kami.
Angin mulai dingin, dan bintang pertama muncul di langit.
“Terima kasih udah datang,” kata Arga.
“Terima kasih udah ngajak,” jawabku pelan.
Ia mengangguk.
“Aku cuma pengin bilang... aku gak pernah marah waktu kamu pergi. Aku cuma gak tahu harus nyapa siapa waktu kamu gak ada.”
Aku menarik napas panjang.
Lalu, sebelum kata lain sempat tumbuh menjadi luka, aku menjawab,
“Aku juga gak pernah lupa kamu. Aku cuma... butuh waktu buat belajar pulang.”
Dan senja pun benar-benar berakhir.
Kami berjalan berlawanan arah
aku kembali ke jalan kecil menuju rumah penginapan,
dan Arga tetap di sana, memandangi laut yang kini kelam.
Tapi aku tahu, di antara pasir dan angin sore itu,
ada sesuatu yang akhirnya kami lepaskan dengan damai.
Surat yang Tak Pernah Dikirim
Malamnya, aku menulis di buku kecilku:
“Kepada Arga,
Terima kasih sudah menunggu tanpa janji.
Terima kasih sudah menyimpan kenangan tanpa menyalahkan.Beberapa orang memang tidak diciptakan untuk terus berjalan bersama,
tapi untuk saling mengingat agar kita tidak kehilangan arah.”
Aku menutup buku itu, lalu menatap ke luar jendela.
Bulan menggantung di atas laut, memantulkan cahaya putih di permukaannya.
Suara ombak terdengar seperti napas panjang dunia tenang, berulang, dan jujur.
Aku tahu, besok pagi jejak di pasir itu sudah hilang.
Tapi sesuatu dari sore ini akan tetap tinggal di hati, di ingatan, di waktu.
Dan mungkin, begitulah cara kenangan bekerja:
Ia tidak memaksa kita untuk kembali,
hanya mengingatkan agar kita tahu dari mana kita pernah berangkat.
🌅 Tamat
Risti Windri Pabendan
Komentar
Posting Komentar